HAPPY ANNIV 3rd BDS (BADAI STATIC)
Hai BaDai Static…
Masih inget hari ini tepat 3 tahun terbentuknya BaDai Static, kan?
Ya, pasti kalian taulah tanggal bersejarah buat kita semua Member BaDai Static. Apa kalian juga masih inget apa sih artinya BADAI STATIC ? yuk, kita flashback sedikit mengenai bagaimana bisa terbentuknya BaDai Static…
Perjalanan Awal Karier Bagas Rahman Dwi Saputra dan Gloria Chindai Lagio
Bagas Rahman Dwi Saputra, dilahirkan dari rahim seorang wanita cantik bernama Irawati Ciknawi, di rumah sakit RS Muhammad Husein Palembang, pada hari sabtu tanggal 6 mei 2000. Kedamaian senja di sore itu terpecahkan oleh suara oek-oek Bagas. Kelahiran Bagas yang sudah ditunggu banyak orang di dunia ini berjalan dengan lancar. Saat bagas lahir, papa Bagas yang bernama Erlangga langsung mengumandangkan adzan di telingan Bagas. Semua yang sedang bergalau ria dan berharap-harap cemas di luar ruangan, begitu mendengar tangisan Bagas langsung teriak histeris. Alhamdulilah yaa sesuatu. Gitu katanya. Hehehe…
Ehmm kalian tau ngga sih, sebelum Bagas lahir, orang tua Bagas sudah nyiapin segala sesuatu buat Bagas. Mulai dari baby box, baju bayi, mainan-mainan, popok, makanan bayi, hingga nama pun udah tersedia buat Bagas. Bagas diberi nama BAGAS RAHMAN DWI SAPUTRA yang artinya SEORANG LAKI-LAKI YANG KUAT, PEMBELAS KASIHAN BAGI ANAK KE-2. Bagas menghabiskan masa kecilnya di rumahnya yang beralamat di JL.sembaja, komplek taman murni ,lrg harapan nomor 28 RT 13 RW 03 Kelurahan Alang-alang lebar,Km12 palembang. Masa kecil yang bahagia bersama kakaknya, Aditya Yudistira Pratama. Perbedaan usia yang hanya beberapa tahun membuat Bagas dan Adit sangat dekat.
Kata mama Ira nih, saat Bagas balita, teman-temannya papa dan mama Bagas kalau kerumahnya Bagas pasti nyubitin pipi Bagas. Katanya sih, Bagas nggemesin. Waktu kecil, Bagas dan Adit tuh bandel banget. Nakal, jail, aktiv, halaah pokoknya ngga bisa diem deh. Sehari-hari Bagas bermain bersama Adit dan mama-nya.. Orang tua bagas sangat baik karena setiap mereka punya waktu luang pasti ngajak Bagas dan Adit tamasya Sejak kecil, papa Bagas sudah mencari dan mengembangkan bakat Bagas dan Adit. Bakat menyanyi dan bermain music yang dimiliki Bagas sudah tampak sejak ia masih kecil. Maka dari itu umur 3 tahun Bagas dibelikan keyboard oleh papanya. Lagu pertama yang dipelajari Bagas dengan iringan keyboard adalah Aishiteru lagunya Zivilia,
Umur 6 tahun Bagas mulai bersekolah di SDN 156 Palembang. Kalau sekolah dia dianter sama omnya pakai motor beat merah. Awal masuk SD Bagas sudah dikenal guru-guru karena Bagas tergolong siswa pandai dan berbakat. Kakak kelas Bagas banyak yang suka sama Bagas. Ketika ada acara sekolah Bagas tak segan-segan mengisi acara tersebut dengan menyanyi dan bermain keyboard. Bagas bercita-cita menjadi musisi terkenal.
Tahun 2007 Bagas punya adik namanya Cindy Tri Salsabila. Bagas senang punya adik baru, tapi setiap hari dia jailin Cindy, dia ngga akan berhenti ngejailin sampai Cindy menangis. Semakin hari Bagas makin menekuni bakatnya dibidang music. Akhir tahun 2007 dia menjadi keyboardist di Artalata Band. Tahun 2008 adalah tahun berharga untuk Bagas karena di tahun itu Bagas mulai menorehkan banyak prestasi. Diantaranya mendapat juara 1 di Pemilihan Wajah Sumex kids (Majalah Palembang) dan Juara 1 vocal Indomaret su-Sumatera Selatan Selama di SD, Bagas punya genk. Nama teman 1 genk-nya itu Miranti, Dhafni, Rizky, Iin,Nabila, Ajeng, Ricco, Michael, Ayuwidya, dan inggi. Di sekolah, Bagas sering mentraktir teman-temannya.
Saat SD, Bagas pernah digosipkan pacaran sama Inggi (yaaahh namanya juga anak-anak ). Bagas pernah dikejar-kejar sama cewe kecentilan namanya novita. tapi bagas sukanya sama Inggi soalnya pendiam dan sholeh. Bagas pernah meraih :
Juara I Kreativitas Siswa tahun 2009.
Pada tahun 2010, saat Bagas kelas 5 SD, Bagas dan Adit mengikuti audisi Indonesia Mencari Bakat dan lolos. Itu pertama kalinya Bagas tampil di tv dalam ajang pencarian bakat. Saat itu salah satu jurinya adalah Ariel peterpan. Bagas dan Adit hanya bertahan sampai 36 besar. Setelah gugur dari IMB, Bagas fokus di Vanser Kids Band.
Di grup band Vanserkids yang ia bentuk tahun 2009 bersama Adit, Bagas berperan sebagai vokalis dan juga memainkan keyboard. Papa Bagas membuatkan studio Vanser Kids Band yang tak jauh dari rumah Bagas. Sejak saat itu mulai banyak tawaran manggung di sana-sini untuk Vanser Kids Band. Antara lain :
Acara pemerintahan daerah Palembang, Acara O2SN
Acara pernikahan (hampir setiap minggu)
Acara promo produk-produk di Palembang,
Acara-acara pentas seni di sekolah, dan
Manggung di mall-mall Palembang.
Masih di tahun 2010, Bagas mewakili Sumatera dalam ajang vocal Indomaret di Jakarta tingkat Nasional. Tahun 2011, Bagas meraih prestasi lagi yaitu, Juara 1 Festival Seni Budaya Siswa Nasional SD se-sumatera Selatan. Setelah itu dia mewakili Sumatera Selatan dalam Festival Seni Budaya Siswa Nasional di Makassar. Bagas lulus dari SD N 156 palembang tahun 2012 dan meneruskan sekolah ke SMP N 11 Palembang. Awal masuk SMP Bagas mengikuti pemilihan Bintang sekolah XL dan mendapat juara 1.
Tahun 2012 Bagas mengIkuti audisi Idola Cilik. Saat audisi, bagas menyanyikan lagu Ya saman dan Insya Allah. Jurinya adalah Mama Ira, Kak winda, dan Umay. Akhirnya Bagas dapat bintang biru. Berangkatlah Bagas ke Jakarta. Sejak pertama tampil di panggung IC, Bagas sudah punya banyak fans. Nama fans Bagas adalah Bagaslovers. Saat itu yang mengurus Bagaslovers adalah kakak-kakak Bagaslovers seperti Renisya, Vira, Ichtiarzee, Sandi Marono, dll.
Gloria Cindai Lagio itulah nama dari dara manis dari pasangan bapak Yusuf dan ibu sonya asal Kiawa-Kawangkoan (Minahasa-Sulawesi Utara) yang telah berhasil menjadi kontestan Idola Cilik 2013 RCTI , yang terus menuai pujian dari juri maupun para penonton dalam ajang Idola Cilik 2013. Harus diakui memang suara dan penampilannya terus konsisten sejak awal sampai masuk ke babak 4 besar dan sangatlah pantas dia Meraih Hak BINTANGKU (Hak Veto ) dari Juri/Komentator yang biasanya hanya bisa digunakan sekali saja dalam suatu ajang pencarian bakat.
Putri bungsu dari seorang Kostor (pembantu di Gereja) ini semakin melambung dengan penampilannya yang mampu membawakan berbagai jenis lagu dari Pop sampai Keroncong. Cindai sedari kecil memang suka menyanyi. Dia mulai belajar nyanyi tepatnya usia 2,8 tahun dengan mendengarkan lagu dari radio. Menyadari anaknya diberikan anugerah vokal yang bagus, Mamanya Sonya Karinda menyarankan Cindai untuk menjadi penyanyi. Cindai awalnya selalu menolak karena tidak percaya diri. Cindai kemudian mulai tampil untuk menyanyi di Gereja GMIM Zaitun Kiawa.
Ia mengikuti perlombaan menyanyi tingkat Sekolah Minggu dan lomba vokal lainnya dan berhasil meraih juara. Berkat kemampuan vokalnya luar biasa dia sering mendapat undangan untuk tampildi berbagai tempat di daerah Minahasa untuk nyanyi dalam berbagai kesempatan atau acara.
Hal yang patut diacungi jempol dari Cindai adalah dia selalu memanjatkan syukur kepada Tuhan Yesus atas penyertaan Tuhan yang memberikannya lolos ke kesempatan berikutnya. Cindai dalam berbagai kesempatan juga mengakui bahwa bakat dan talentanya adalah anugerah dari Tuhan. Tidak heran karena dia datang dari penyanyi gereja (Sekolah Minggu) di gerejanya.
Audisi Idola Cilik, Menuju Pentas Idola Cilik, hingga sampai Pentas Idola Cilik. Babak demi babak penyisihan dia lewati dengan baik, pastinya bukan hal yang mudah bagi Cindai. Karena banyak teman-teman yang seperjuangan dengan dia yang memiliki bakat yang luar biasa dari dirinya, tapi dia tidak pernah berfikir kalau dia bakalan tersingkirkan dari ajang ini, dia tetap berusaha dan berusaha agar pencapaiannya kali ini membuahkan hasil yang manis. Belum lagi kerap dia harus bersaing ketat untuk beroleh dukungan sms karena penentuan juga kembali kepada dukungan sms yang diterimanya. Proses yang seperti ini membuatnya justru membentuknya menjadi seorang penyanyi yang memiliki mental yang tangguh karena pencapaiannya itu tidak selamanya mudah dan lancar. Dukungan penonton lambat laun makin deras mengalir dan ini hal yang patut disyukuri oleh Cindai.
Satu hal yang mengagumkan bahwa dia ingin menyanyi untuk membahagiakan keluarganya dan juga untuk memuliakan Tuhan. Cindai saat ini masih terbilang amat muda, 15 tahun tapi dengan bakatnya yang luar biasa dia siap untuk mengembangkan sayap untuk terbang lebih tinggi. Semoga sukses selalu, Jalan kamu masih panjang. Terus asah bakat dan kemampuan kamu dalam bidang tarik suara.
Cerita bagaimana sampai adanya komunitas BaDai Static :
Setiap ajang pencarian bakat pasti selalu ada komunitas. Bukan hanya untuk komunitas satu idola namun ada gabungan antara satu komunitas dengan satu komunitas lainnya atau yang lebih dikenal dengan komunitas couple. Yaps, seperti salah satu komunitas ini. BaDai Static! Awalnya komunitas ini hanya beranggotakan 1000+ member saja, namun seiring berjalannya waktu komunitas ini semakin banyak memiliki member hingga mencapai 19.000+ member. Yang dibentuk pada tanggal 28 Januri 2013 ini. Didalam komunitas ini banyak berbagai komunitas seperti BagasLovers dan juga CindaiLicious. Komunitas ini tidak hanya digandrungi oleh masyarakat Indonesia saja bahkan kamunitas ini sudah sampai ke Malaysia juga.
Saya bener-bener bangga sama komunitas ini karena setiap Event Anniv BagasLovers, CindaiLicious ataupun BaDai Static mereka selalu rame,kocak,solid,kreatif dan yang paling penring mereka memegang teguh PERDAMAIAN.
Komunitas ini dibentuk BUKAN UNTUK MENJODOHKAN tetapi UNTUK SALING SUPPORT MEREKA! Karena saya rasa semua komunitas begitu ya…
Awalnya terbentuknya komunitas BaDai Static, saat itu ada seseorang yang update status kalau di menyukai BAgas cinDAI. Lalu saat dibaca tulisan yang di capslock itu ternyata “BADAI” dan terbentuklah komunitas pencinta BADAI (BAGAS CINDAI).
Walaupun saya bukan pembentuk komunitas BaDai ini tapi saya berharap kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun, kalian tetap selalu support Bagas dan Cindai hingga mereka mencapai kesuksesannya dan kita para fans mereka juga mencapai kesuksesan kita sendiri. Jika, masih ada masalah yang tidak menyukai komunitas ini, saya berharap kalian tidak terpancing emosi ya. Biarkan saja mereka judge kita tapi kita balas dengan senyuman,sopan santun dan kedewasaan kita dan tentunya tetap Stay Calm and Fine.
TERBENTUKNYA BADAI STATIC
Terbentuknya tepat pada tanggal 28 Januari 2013
BADAI STATIC
Kata BaDai diambil dari BAgas dan ChinDAI dan kata STATIC diambil dari pelajaran fisika kelas 9. Listrik Statis yang artinya tidak bergerak. Dalam pelajaran listrik statis, jika penggaris di dekatkan dengan potongan kertas akan menempel, bukan? Padahal, berbeda jenis kain, bukan? Benda tersebut bukan magnet bukan magnet/besi yang di dekatkan ke baja.
KESIMPULANNYA
BADAI juga begitu, walaupun berbeda keyakinan, tapi semoga persahabatan dan kedekatan mereka tetap bersatu seperti listrik statis yang bukan jenis besi/baja namun bisa MENEMPEL seperti MAGNET. Jadi, intinya walaupun mereka BERBEDA AGAMA tapi semoga BISA MENYATU.
SLOGANNYA
“Difference Make Us Together” yang memiliki artinya, “Perbedaan Membuat Kami Bersama”
&
“Keep Take Our Love With BaDai” yang memiliki artinya, “Tetap Meletakkan Rasa Cinta Kita dengan BaDai”
HAPPY ANNIV 3rd BADAI STATIC
Terimakasih buat waktu kebersamaan kalian selama 3tahun ini yang selalu solid dan tetap menjadi bagian BDS dari tahun 2013 hingga 2016 ini. Banyak sekali kita mendapatkan judge dari komunitas lain tapi aku salut kalian tetap berpegang teguh dan selalu ada disaat kita lagi diterpa masalah.
Terimakasih untuk karya-karya kalian selama ini. Seperti saat sekarang MBDS sudah tidak seheboh dulu kan ya? Itu karena setiap MBDS mempunyai kesibukkan sendiri. Kesibukkan dalam untuk masa depan mereka yaitu kesibukkan sekolah dan ngampus. Aku harap walaupun tidak seheboh pertama kali tapi kalian selalu inget sama yang namanya TANGGAL 28 yang selalu ada disetiap bulannya. Setidaknya meluangkan sedikit waktu ditengah kesibukan kalian yaaa….
Semoga kita akan selalu solid ya, selalu kompak, selalu saling menyanyangi, selalu support BAGAS & CHINDAI sampai kapanpun. Inget! Kita sekarang bukan lagi satu tapi kita adalah satu keluarga, satu tujuan, satu komunitas.
Sukses terus ya pendidikannya BAGAS, CHINDAI & JUGA MBDS semua semoga kita akan mencapai kesuksesan kita dengan bakat, talenta dan kemampuan kita sendiri.
Sampai ketemu di anniv berikutnya…….
See you :3
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
ID LINE : ullyhaloho
IG : UllyHaloho
Ratna Ully Olivia Haloho
Rabu, 27 Januari 2016
Rabu, 06 Januari 2016
"Cerbung You're My Flashlight" (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part9
CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part9
Penulis : @OliviaaHaloho
------------------------------------
Langsung aja yuk
Cekidot………………
-----------------------------------------
---------------------------------------
Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.
“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya
“ngapain kesini?” kata Chindai ketus
“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng
“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin
“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya
“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.
“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas
Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.
“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal
“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek
“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya
“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”
“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”
“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek
“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar
“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas
‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.
----------------------------------------------------
“Ndai” panggil Bagas dengan intonasi tinggi, namun Chindai tak menggubrisnya
“Cindai!” panggil Bagas lagi yang kini menaikkan satu oktaf suaranya.
Ini nih hal yang buat Chindai tidak suka sama Bagas. Sekali aja enggak di gubris omongannya, langsung aja main keras-keras suara.
“apaan sih, Gas? Malu tau” jawab Chindai jutek. Bagas hanya mengulum senyum saat melihat wajah jutek Chindai yang menurutnya lucu
“lo juga sih, main-main tinggalin gue terus main jutek-jutekin gue.” Jawab Bagas tak kalah sewotnya padahal hanya bercanda
“lo itu yang nyebelin tau enggak”
“masa sih? Perasaan enggak deh” jawab Bagas polos
“ih! Lo itu...errrrr” jawab Chindai mengepalkan kedua tangannya yang teangkat dan menghentakkan kakinya yang merasa geram sama sifat Bagas yang sok polos
“hahaha” tawa Bagas saat melihat ekspresi Chindai yang menggemaskan
“kenapa lo ketawa-ketawa?” Tanya Chindai
“gemes aja gue liat lo pasang ekspresi seperti itu” kata Bagas “udah deh, berhenti marah-marahnya. Sekarang lebih baik kita makan terus jempu Ivan sama Oca, mereka 1 jam 30menit lagi pulang.” lanjut Bagas dan menggandeng tangan Chindai menuju restoran yang ada di dalam mall tersebut. Walau ada penolakkan dari Chindai namun Bagas tak habis piker di genggamnya tangan Chindai lumanyan kuat, hingga Chindai meringis kesakitan.
“Gas, lepasin. Sakit tangan gue” lirih Chindai. Perlahan tangan Bagas melepaskan genggaman tangan Chindai. Chindai mulai mengusap-usapkan pergelangan tangannya
“mmafin gue” desah Bagas penuh penyesalan. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja. “Ayo kita makan, setelah itu kita jemput Ivan dan Oca” lanjut Bagas. Chindai tak berani menatap Bagas, dia hanya berjalan terlebih dahulu kedalam restoran yang ada di mall tersebut, Bagas menghela nafas saat Chindai kini cuek kepada dirinya
-----------------------------------
Kini Bagas dan Chindai sudah berada di luar mall. Sejak kejadiaan tadi Chindai jadi mendiamkan Bagas. Bagas menghela nafas berat dari tadi dirinya mengoceh panjang kali lebar tapi tak mendapatkan respon dari Chindai.
“Ndai, jangan cuekkin gue mulu dong. Gue tau gue salah tapi engga harus di cuekkin kan?” Tanya Bagas sewot
“udah deh nyetir aja yang bener” jawab Chindai dingin, sebenarnya Chindai juga tak tega harus terus menerus cuek sama Bagas tapi mau gimana lagi, Bagas yang kelewatan jailnya. Ya, harus dikasih pelajaran seperti ini.
”ih! Galak banget neng. Nanti cepat tua loh. Akang enggak bakalan jatuh cinta lagi sama eneng” ceplos Bagas. Chindai menggerjap-ngerjapkan matanya, apa? Apa yang tadi dikatakan Bagas?
‘Jatuh Cinta? Jatuh Cinta sama siapa coba?’ dengus Chindai dalam hati
“maksud lo?” jawab dan Tanya Chindai
Bagas tersenyum senang melihat Chindai yang kepo seperti ini.
“iya, gue lagi jatuh cinta” jawab Bagas sambil memperhatikan Chindai sekilas dan kembali focus ke arah jalan
“ooh, terus gue harus peduli gitu?” Tanya Chindai ketus. Bagas terkekeh mendengar jawaban Chindai jadi ketus seperti ini.
“lo engga mau tau gitu siapa cewe yang berhasil merebut hati gue?” Tanya Bagas
“enggak” jawab Chindai jutek
“ih! Lo kok enggak mau tau siapa cewenya, Ndai?”
“gue engga perduli dan gue engga mau tau, Bagasss” jawab Chindai dengan nada kesel
“enggak boleh gitu dong, lo harus tanya siapa ceweknya” jawab Bagas enteng. Chindai menghembuskan nafas berat.
“memangnya gue harus tau gitu?” jawab Chindai dan melirik kearah Bagas. Bagas hanya menganggukkan kepalanya
“yasudah, siapa cewe itu? Puaskan lo?” jawab Chindai
“ah! Gue enggak mau lo nanya begitu, harus nanya baik-baik dong” jawab Bagas. Chindai mendengus kesel kearah Bagas
‘ini anak rese banget sih, sudah disuruh nanya, pas ditanya malah ngeledek’ dumel Chindai di dalam hati
“Eh, Ndai! Buruan” buyar Bagas
“iya-iya.. bawel lo” jawab Chindai, “Bagas.. siapa cewe beruntung itu?” Lanjut Chindai dengan memasang wajah semanis mungkin. Bagas tersenyum senang di dalam hatinya melihat Chindai seperti tadi, seperti ada gejolak di dalam dadanya saat Chindai berbicara semanis ini.
Terlihat Bagas menepikan mobilnya dan membuat kening Chindi berkerut. Banyak pertanyaan yang mengganjal hatinya.
“ih, Bagas, untuk apa lo stopin mobil lo disini sih? Oca dan Ivan nanti kelamaan menunggu” omel Chindai kepada Bagas. Lagi-lagi Bagas mau membuat Chindai naik darah.
“ssstttt.. diem aja kenapa sih? Dari tadi bawel mulu” jawab Bagas tak kalah sewot, “lo kan mau tau ceweknya, yasudah gue pengen cerita sama lo tentag siapa itu ceweknya” lanjut Bagas
“kan lo bisa bilang sambil nyetir, Bagaaaassss!” geram Chindai akan sifat Bagas kali ini
“kalau nyetir sambil ngobrol itu bahaya tau, apalagi gue lagi antusias buat cerita ke lo siapa cewe yang gue maksud” jawab Bagas enteng dan tersenyum
‘Ih! Ini cowo lama-lama buat gue sebel aja. Engga bisa apa buat gue seneng dekat sama dia’ dumel Chindai
“heh, Ndai. Kenapa lo jadi diem? Lo pasti lagi ngedumel kan di dalam hati” tebak Bagas
SKAK!!! Chindai terlihat kelagapan saat Bagas bisa menebak dirinya sedang ngedumel di dalam hati. Apa Bagas bisa dengar suara hati Chindai? -___-
“e...enggak, kata siapa? Buruan deh nanti Ivan dan Oca kelamaan menunggu” jawab Chindai sesantai mungkin
“gue engga akan ke sekolah Oca dan Ivan sebelum lo bertanya siapa cewe yang gue maksud tadi” jawab Bagas dan membuat Chindai jengkel sendiri dengan kelakuan Bagas ini
“oke.. oke..” jawab Chindai menghela nafas panjang, “siapa cewe yang berhasil merebut hati lo” lanjut Chindai sesantai mungkin
“lo yakin mau tau siapa cewenya?” Tanya Bagas memastikan lagi. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja.
“yakinnn?” goda Bagas yang kini memajukan wajahnya hingga tepat di depan Chindai. Chindai menelan saliva nya karena jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, saat berdekatan dengan Bagas dengan jarak sedekat ini.
“i...iya, Gas” jawab Chindai gugup
“ceweknya itu... kamu, Ndai” jawab Bagas tersenyum manis kearah Chindai dengan posisi masih sama seperti tadi. Wajah mereka yang dekat membuat nafas mereka semakin terasa memburu. Detak jantung pun rasanya sudah tidak berdetak normal.
bersambung....
Penulis : @OliviaaHaloho
------------------------------------
Langsung aja yuk
Cekidot………………
-----------------------------------------
---------------------------------------
Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.
“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya
“ngapain kesini?” kata Chindai ketus
“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng
“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin
“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya
“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.
“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas
Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.
“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal
“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek
“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya
“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”
“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”
“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek
“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar
“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas
‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.
----------------------------------------------------
“Ndai” panggil Bagas dengan intonasi tinggi, namun Chindai tak menggubrisnya
“Cindai!” panggil Bagas lagi yang kini menaikkan satu oktaf suaranya.
Ini nih hal yang buat Chindai tidak suka sama Bagas. Sekali aja enggak di gubris omongannya, langsung aja main keras-keras suara.
“apaan sih, Gas? Malu tau” jawab Chindai jutek. Bagas hanya mengulum senyum saat melihat wajah jutek Chindai yang menurutnya lucu
“lo juga sih, main-main tinggalin gue terus main jutek-jutekin gue.” Jawab Bagas tak kalah sewotnya padahal hanya bercanda
“lo itu yang nyebelin tau enggak”
“masa sih? Perasaan enggak deh” jawab Bagas polos
“ih! Lo itu...errrrr” jawab Chindai mengepalkan kedua tangannya yang teangkat dan menghentakkan kakinya yang merasa geram sama sifat Bagas yang sok polos
“hahaha” tawa Bagas saat melihat ekspresi Chindai yang menggemaskan
“kenapa lo ketawa-ketawa?” Tanya Chindai
“gemes aja gue liat lo pasang ekspresi seperti itu” kata Bagas “udah deh, berhenti marah-marahnya. Sekarang lebih baik kita makan terus jempu Ivan sama Oca, mereka 1 jam 30menit lagi pulang.” lanjut Bagas dan menggandeng tangan Chindai menuju restoran yang ada di dalam mall tersebut. Walau ada penolakkan dari Chindai namun Bagas tak habis piker di genggamnya tangan Chindai lumanyan kuat, hingga Chindai meringis kesakitan.
“Gas, lepasin. Sakit tangan gue” lirih Chindai. Perlahan tangan Bagas melepaskan genggaman tangan Chindai. Chindai mulai mengusap-usapkan pergelangan tangannya
“mmafin gue” desah Bagas penuh penyesalan. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja. “Ayo kita makan, setelah itu kita jemput Ivan dan Oca” lanjut Bagas. Chindai tak berani menatap Bagas, dia hanya berjalan terlebih dahulu kedalam restoran yang ada di mall tersebut, Bagas menghela nafas saat Chindai kini cuek kepada dirinya
-----------------------------------
Kini Bagas dan Chindai sudah berada di luar mall. Sejak kejadiaan tadi Chindai jadi mendiamkan Bagas. Bagas menghela nafas berat dari tadi dirinya mengoceh panjang kali lebar tapi tak mendapatkan respon dari Chindai.
“Ndai, jangan cuekkin gue mulu dong. Gue tau gue salah tapi engga harus di cuekkin kan?” Tanya Bagas sewot
“udah deh nyetir aja yang bener” jawab Chindai dingin, sebenarnya Chindai juga tak tega harus terus menerus cuek sama Bagas tapi mau gimana lagi, Bagas yang kelewatan jailnya. Ya, harus dikasih pelajaran seperti ini.
”ih! Galak banget neng. Nanti cepat tua loh. Akang enggak bakalan jatuh cinta lagi sama eneng” ceplos Bagas. Chindai menggerjap-ngerjapkan matanya, apa? Apa yang tadi dikatakan Bagas?
‘Jatuh Cinta? Jatuh Cinta sama siapa coba?’ dengus Chindai dalam hati
“maksud lo?” jawab dan Tanya Chindai
Bagas tersenyum senang melihat Chindai yang kepo seperti ini.
“iya, gue lagi jatuh cinta” jawab Bagas sambil memperhatikan Chindai sekilas dan kembali focus ke arah jalan
“ooh, terus gue harus peduli gitu?” Tanya Chindai ketus. Bagas terkekeh mendengar jawaban Chindai jadi ketus seperti ini.
“lo engga mau tau gitu siapa cewe yang berhasil merebut hati gue?” Tanya Bagas
“enggak” jawab Chindai jutek
“ih! Lo kok enggak mau tau siapa cewenya, Ndai?”
“gue engga perduli dan gue engga mau tau, Bagasss” jawab Chindai dengan nada kesel
“enggak boleh gitu dong, lo harus tanya siapa ceweknya” jawab Bagas enteng. Chindai menghembuskan nafas berat.
“memangnya gue harus tau gitu?” jawab Chindai dan melirik kearah Bagas. Bagas hanya menganggukkan kepalanya
“yasudah, siapa cewe itu? Puaskan lo?” jawab Chindai
“ah! Gue enggak mau lo nanya begitu, harus nanya baik-baik dong” jawab Bagas. Chindai mendengus kesel kearah Bagas
‘ini anak rese banget sih, sudah disuruh nanya, pas ditanya malah ngeledek’ dumel Chindai di dalam hati
“Eh, Ndai! Buruan” buyar Bagas
“iya-iya.. bawel lo” jawab Chindai, “Bagas.. siapa cewe beruntung itu?” Lanjut Chindai dengan memasang wajah semanis mungkin. Bagas tersenyum senang di dalam hatinya melihat Chindai seperti tadi, seperti ada gejolak di dalam dadanya saat Chindai berbicara semanis ini.
Terlihat Bagas menepikan mobilnya dan membuat kening Chindi berkerut. Banyak pertanyaan yang mengganjal hatinya.
“ih, Bagas, untuk apa lo stopin mobil lo disini sih? Oca dan Ivan nanti kelamaan menunggu” omel Chindai kepada Bagas. Lagi-lagi Bagas mau membuat Chindai naik darah.
“ssstttt.. diem aja kenapa sih? Dari tadi bawel mulu” jawab Bagas tak kalah sewot, “lo kan mau tau ceweknya, yasudah gue pengen cerita sama lo tentag siapa itu ceweknya” lanjut Bagas
“kan lo bisa bilang sambil nyetir, Bagaaaassss!” geram Chindai akan sifat Bagas kali ini
“kalau nyetir sambil ngobrol itu bahaya tau, apalagi gue lagi antusias buat cerita ke lo siapa cewe yang gue maksud” jawab Bagas enteng dan tersenyum
‘Ih! Ini cowo lama-lama buat gue sebel aja. Engga bisa apa buat gue seneng dekat sama dia’ dumel Chindai
“heh, Ndai. Kenapa lo jadi diem? Lo pasti lagi ngedumel kan di dalam hati” tebak Bagas
SKAK!!! Chindai terlihat kelagapan saat Bagas bisa menebak dirinya sedang ngedumel di dalam hati. Apa Bagas bisa dengar suara hati Chindai? -___-
“e...enggak, kata siapa? Buruan deh nanti Ivan dan Oca kelamaan menunggu” jawab Chindai sesantai mungkin
“gue engga akan ke sekolah Oca dan Ivan sebelum lo bertanya siapa cewe yang gue maksud tadi” jawab Bagas dan membuat Chindai jengkel sendiri dengan kelakuan Bagas ini
“oke.. oke..” jawab Chindai menghela nafas panjang, “siapa cewe yang berhasil merebut hati lo” lanjut Chindai sesantai mungkin
“lo yakin mau tau siapa cewenya?” Tanya Bagas memastikan lagi. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja.
“yakinnn?” goda Bagas yang kini memajukan wajahnya hingga tepat di depan Chindai. Chindai menelan saliva nya karena jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, saat berdekatan dengan Bagas dengan jarak sedekat ini.
“i...iya, Gas” jawab Chindai gugup
“ceweknya itu... kamu, Ndai” jawab Bagas tersenyum manis kearah Chindai dengan posisi masih sama seperti tadi. Wajah mereka yang dekat membuat nafas mereka semakin terasa memburu. Detak jantung pun rasanya sudah tidak berdetak normal.
bersambung....
Rabu, 11 November 2015
CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part8
CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part8
Penulis : @OliviaaHaloho
------------------------------------
Maaf ya semua cerbung ini ngaretnya minta ampun. Saya masih sibuk sama kuliah dan kegiatan lainnya diluar jam kuliah. Jadi tolong saling mengerti ya. Saya akan lanjut cerbung ini sampai END walau waktu ngepost agak lama dan ngaret.
-----------------------------------------
Part 7 : https://m.facebook.com/groups/155453907965587?message_id=508162472694727&_rdr
-------------------------------------
"Ooh iya-iya, makasih ya mba. Makasih juga es creamnya buat keluarga kami" jelas Bagas santai dan sang pelayan hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari meja restoran Bagas.
Kali ini Chindai lagi-lagi membulatkan matanya dengan sempurna karena mendengar penuturan Bagas tadi.
"Heh, Gas! Lo apa-apaan sih? Kok lo bilang kita-kita keluarga kecil lo sih?" Tanya Chindai sewot
"Ssssstt.. Diem aja deh, makan aja." Jawab Bagas santai
"Ish lo! Rese tau nggak" jawab Chindai lagi lalu memalingkan wajahnya
"Karena gue memang ingin lo jadi ibu dari anak-anak gue nanti. Gue suka dan gue cinta sama lo" bisik Bagas tepat di telinga kiri Chindai. Dan berhasil membuat Chindai menoleh cepat kearah Bagas.
CUP!!!
Satu kecupan mendarat di kening Chindai. Oca dan Ivan yang melihatnya hanya menggedipkan matanya melihat Bagas mencium Chindai dihadapan mereka.
-----------------------
Chindai membolakan matanya. Kerena Bagas berani-beraninya menyium dirinya di depan umum juga di depan Oca dan Ivan. Tak lama kemudian Bagas mengakhiri ciumannya di kening Chindai, dan saat itu Chindai langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
“kak Bagas ngapain cium kakak Chindai?” Tanya Ivan tiba-tiba dan langsung membuat Bagas menoleh cepat kearah Ivan dan Chindai langsung menegakkan kepalanya lagi saat mendengar pertanyaan dari Ivan
“hmmm.. a.. anu loh, Van” jawab Bagas gelagapan saat dirinya tertangkap basah mencium Chindai di hadapan Ivan juga Oca. Bagas melirik Chindai bermaksud member kode agar membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ivan..
Namun Chindai hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dirinya juga tidak tau harus menjawab apa. Toh yang mulai mencium dirinya Bagas bukan Chindai. Bagas hanya menghembuskan nafas beratnya saat mendapatkan pertanyaan Chindai yang tidak sesuai harapannya.
“nyeselin lo” dengus Bagas kesal
“lo juga main nyosor aja seperti bebek” balas Chindai tak mau kalah
Ivan yang sedari tadi memperhatikan Bagas dan Chindai terus berdebat dan tak menjawab pertanyaan dari dirinya pun merasa kesal. Akhirnya, Ivan pun angkat bicara lagi.
“kak Bagasssss!!” jerit Ivan yang mulai merasa diabaikan oleh Bagas juga Chindai
“eh iya-iya, Van. Kak Bagas nggak nyium kak Chindai kok. Tadi di kening kak Chindai ada pasir jadi kak Bagas bersihkan deh keningnya” jawab Bagas sekenanya sambil nyengir nggak jelas lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya dan Chindai hanya mengiyakan jawaban dari Bagas
“ooh... jadi kalau teman Ivan ada pasir dikeningnya, Ivan boleh dong seperti kak Bagas tadi?” jawab dan Tanya Ivan lagi dengan watadosnya mampu membuat Bagas tersedak atas pertanyaan Ivan tadi
“uhuuukk.. uhuuukk”
“haaaaaaa!!! Jangan!!!” jawab Chindai histeris
“kenapa Kak?” Tanya Ivan lagi
“hmmm.. itu boleh dilakukan kalau Ivan punya orang yang Ivan saying. Contohnya seperti mama dan papa Ivan” jawab Chindai
“ooh.. yasudah nanti Ivan Tanya mama dan papa aja. Ivan mau lanjut makan lagi” jawab Ivan akhirnya berhenti bertanya juga membuat Bagas dan Chindai bias berafas lega.
-------------------------------------
Pagi ini tidak ada jadwal mata kuliah alias kuliah hari ini di liburkan karena adanya wisuda kakak-kakak tingkat di universitas Bagas dan Chindai. Hingga pagi ini Bagas ingin mengajak Chindai jalan-jalan berdua saja. Kenapa Bagas memilih jalan-jalan pagi hari? Ya, supaya Ivan dan Oca tidak meminta ikut bersama mereka. Bukan tidak mau mengajak Ivan dan Oca karena Bagas hanya ingin jalan berdua dengan Chindai.
Sebenarnya acara jalan-jalan ini dadakan karena dosen pagi ini hingga sore nanti yang mengajar mata kuliah bersangkutan berperan penting dalam wisuda nanti. Maka dari itu lebih baik mahasiswa/i nya diliburkan saja. Tentunya tugas tetap jalan walau libur setengah hari ataupun tak ada kuliah seharian.
Setelah selesai mandi, Chindai buru-buru mengganti baju dan berdandan biasa saja. Toh! Bukan dinner atau hal-hal yang romantic bukan?
Drrrrttttt
Satu getaran dari handphone Chindai menandakan ada sebuah sms.
‘gue ada di depan rumah lo, Ndai’
‘iya, lo masuk aja.. gue masih dikamar nih.’
‘okay, jangan terlalu dandan lo. Ntar gue ngak merem-merem liat lo dandan cantik banget’
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu kamar Chindai dari luar kamar. Chindai yang tadi sedang merias diri kini harus menghentikan sejenak aktifitasnya karena ketukan pintu kamarnya.
“iya sebentar” sahut Chindai dari dalam kamar dan berjalan menuju pintu kamar untuk membuka pintu kamarnya yang sengaja ia kunci
CEKLEK
Pintu kamar terbuka lebar dan ternyata yang mengetuk pintu kamar Chindai adalah Oca, dengan gaya berdiri angkuh sambil bersedekap tangan di dada lengkap dengan pakaian sekolahnya.
“eh ada Oca, ya.” Kata Chindai
“kak Chindai mau jalan sama kak Bagas ya?” Tanya Oca dengan wajah sewotnya
“hmmmm.. i... iya, Oca.” Jawab Chindai takut-takut, sepertinya Oca akan marah kalau dirinya hanya jalan berdua dengan Bagas
“kenapa nggak ajak Oca sama Ivan? Kakak jahaaatt” kata Oca yang kini mulai memasang wajah memelasnya, air mata nya tiba-tiba saja mengalir di kedua sudut matanya.
Chindai bingung sendiri mau jawab apa? Sebenarnya bukan dirinya lah yang mau jalan-jalan dengan Bagas tapi Bagas lah yang mengajak Chindai. Chindai mulai kebingungan saat tangisan Oca semakin kencang.
“huhuhuhu... mama.. papa...” tangis Oca mulai pecah
Tak lama terdengar derap langkah yang menuju kearah mereka. Chindai semakin panic, apalagi kalau misalnya langkah itu adalah langkah Om ataupun Tantenya. Bias-bisa digantung hidup-hidup sudah buat keributan di pagi hari (?)
“aduh.. aduh jangan nangis dong Oca. Bukan kakak yang mau jalan-jalan tapi kakak di ajak sama kak Bagas. Kalau kakak tolak nanti kak Bagasnya marah sama kakak, nanti kak Bagas enggak mau main lagi kerumah. Emang Oca mau?” jawab dan Tanya Chindai buru-buru
“enggak mau.. hiks.. hiks” jawab Oca sesegukan di sela tangisnya
“kalau Oca enggak mau, jadi kak Chindai harus terima ajakan kak Bagas jalan. Nanti kakak janji bakalan jemput Oca dan Ivan setelah pulang sekolah, gimana?” usul Bagas yang tiba-tiba datang
Chindai mengerutkan keningnya saat Bagas mengatakan sepeerti itu. Apa itu tandanya mereka akan menjemput Oca dan Ivan? Astaga! Apa nanti mereka akan dikira keluarga kecil yang lagi bahagia lagi?
Seketika tangis Oca berhenti saat Bagas bilang seperti tadi. Apa Oca akan mengiyakan ajakan Bagas? Kalau, Oca mengiyakan jawaban Bagas maka tamatlah riwayat Chindai bakalan di bilang Keluarga kecil yang berbahagia lagi?
“kak Bagas serius?” Tanya Oca sambil menghapus sisa air matanya yang tadi. Bagas hanya menganggukan kepalanya saja dan berjongkok untuk menyamai tinggi Oca.
“iya kak, Bagas. Serius.” Jawab Bagas, “jadi jangan nangis lagi ya” lanjut Bagas dan menagkup kedua pipi Oca dengan kedua tangannya.
“iya kak. Oca nggak nangis lagi” jawab Oca dan tersenyum manis dan memeluk Bagas dengan senyuman manisnya. Bagaspun membalas pelukkan Oca
----------------------------------------
Acara jalan pagi tadi harus ditunda dulu sebentar karena Oca meminta agar Bagas mengantar dirinya dan Ivan ke sekolah. Om dan Tante juga di buat cengo dengan keinginan Oca tersebut. Siapa papanya? Siapa mamanya? Tapi kenapa Oca malahan dekat sama Bagas?
Setelah mengantarkan Oca dan juga Ivan kesekolah, Bagas dan Chindai kembali ke rencana awal mereka yaitu jalan berdua. Bagas kini sedang menyetir mobil dan sesekali membagi focus antara kearah jalanan dan sesekali melirik Chindai yang ada disampingnya.
“Ndai” panggil Bagas
“iya, kenapa Gas?” jawab dan Tanya Chindai dan melirik kearah Bagas
“diem aja daritadi, kenapa?” Tanya Bagas. Chindai menggelengkan kepalanya
“nggak apa-apa kok” jawab Chindai
“beneran?” Tanya Bagas meyakimkam lagi
“iya, Bagas. Nyetir aja dulu yang bener”
“iya-iya”
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sekolah Ivan dan Oca karena harus memutar jalan. Tujuan Bagas dan Chindai saat ini adalah mall terbesar di Jakarta.
“mall?” Tanya Chindai karena mobil berhenti diparkiran mall saat ini. Bagas melirik Chindai sekilas dan menganggukan kepalanya
“iya, kenapa?” Tanya Bagas
“kalau hanya ke mall buat apa sepagi ini, Gas” dengus Chindai kesal dengan sifat Bagas pagi ini
“kalau agak siangan yang ada Ivan dan Oca pasti akan ikut kita dan kita enggak ada waktu buat berdua, Cindai” jelas Bagas. Chindai membuang muka kearah kaca jendela mobil Bagas dan tersenyum kecil
Berjalan berdua memutari setiap lorong yang ada di mall ini dan sesekali saling jail antara satu dengan yang lainnya ini yang membuat waktu berjalan cepat. Chindai menjahili Bagas sampai-sampai Bagas merajuk saat kejahilan Chindai membuat mood Bagas hilang. Sebenarnya, Bagas tidak merajuk kepada Chindai, hanya saja Bagas sedang mengerjai Chindai saja.
“Gas, ayolah.. gue kan tadi cuman bercanda aja loh.” Kata Chindai yang terus mencoba mengembalikan mood Bagas hari ini
“tau ah! Gue bĂȘte sama lo, Ndai. Jailnya lo kelewatan batas” ujar Bagas dengan dingin
“ish! Lo bener-bener nyebelin tau nggak. Gue mau balik aja kalau gitu” jawab Chindai tak kalah cuek dan mengentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Bagas. Bagas hanya cengo melihat Chindai yang pergi meninggalkan dirinya.
‘Lah? Itu anak kok jadi sewot ke gue sih? Kan seharusnya gue yang sewot sama itu orang’ dengus Bagas dan berlari meghampiri Chindai
---------------------
Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.
“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya
“ngapain kesini?” kata Chindai ketus
“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng
“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin
“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya
“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.
“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas
Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.
“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal
“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek
“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya
“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”
“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”
“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek
“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar
“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas
‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.
----------------------------------------------------
Bersambung....
1. @[100006453551554:]
2. @[100002266285838:]
3. @[100007787853476:]
4. @[100002651698312:]
5. @[100004591685691:]
6. @[100009092797730:]
7. @[100006404793025:]
8. @[100008370602081:]
9. @[100003045598252:]
10. @[100005614054591:]
11. @[100003524813209:]
12. @[100006942603463:]
13. @[100008460871079:]
14. @[100008046818920:]
15. @[100006213302859:]
16. @[100004411331132:]
17. @[100004507652023:]
18. @[100004748135843:]
19. @[100006130530654:]
20. @[100004748135843:]
21. @[100004507652023:]
22. @[100004934895154:]
23. @[100004463536496:]
24. @[100004748135843:]
25. @[100004934895154:]
26. @[100003108641220:]
27. @[100004539939103:]
28. @[100003722571587:]
29. @[100007894775125:]
30. @[100004481493762:]
31. @[100004539939103:]
32. @[100008029981128:]
33. @[100006179553185:]
34. @[100007990627477:]
Penulis : @OliviaaHaloho
------------------------------------
Maaf ya semua cerbung ini ngaretnya minta ampun. Saya masih sibuk sama kuliah dan kegiatan lainnya diluar jam kuliah. Jadi tolong saling mengerti ya. Saya akan lanjut cerbung ini sampai END walau waktu ngepost agak lama dan ngaret.
-----------------------------------------
Part 7 : https://m.facebook.com/groups/155453907965587?message_id=508162472694727&_rdr
-------------------------------------
"Ooh iya-iya, makasih ya mba. Makasih juga es creamnya buat keluarga kami" jelas Bagas santai dan sang pelayan hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari meja restoran Bagas.
Kali ini Chindai lagi-lagi membulatkan matanya dengan sempurna karena mendengar penuturan Bagas tadi.
"Heh, Gas! Lo apa-apaan sih? Kok lo bilang kita-kita keluarga kecil lo sih?" Tanya Chindai sewot
"Ssssstt.. Diem aja deh, makan aja." Jawab Bagas santai
"Ish lo! Rese tau nggak" jawab Chindai lagi lalu memalingkan wajahnya
"Karena gue memang ingin lo jadi ibu dari anak-anak gue nanti. Gue suka dan gue cinta sama lo" bisik Bagas tepat di telinga kiri Chindai. Dan berhasil membuat Chindai menoleh cepat kearah Bagas.
CUP!!!
Satu kecupan mendarat di kening Chindai. Oca dan Ivan yang melihatnya hanya menggedipkan matanya melihat Bagas mencium Chindai dihadapan mereka.
-----------------------
Chindai membolakan matanya. Kerena Bagas berani-beraninya menyium dirinya di depan umum juga di depan Oca dan Ivan. Tak lama kemudian Bagas mengakhiri ciumannya di kening Chindai, dan saat itu Chindai langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
“kak Bagas ngapain cium kakak Chindai?” Tanya Ivan tiba-tiba dan langsung membuat Bagas menoleh cepat kearah Ivan dan Chindai langsung menegakkan kepalanya lagi saat mendengar pertanyaan dari Ivan
“hmmm.. a.. anu loh, Van” jawab Bagas gelagapan saat dirinya tertangkap basah mencium Chindai di hadapan Ivan juga Oca. Bagas melirik Chindai bermaksud member kode agar membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ivan..
Namun Chindai hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dirinya juga tidak tau harus menjawab apa. Toh yang mulai mencium dirinya Bagas bukan Chindai. Bagas hanya menghembuskan nafas beratnya saat mendapatkan pertanyaan Chindai yang tidak sesuai harapannya.
“nyeselin lo” dengus Bagas kesal
“lo juga main nyosor aja seperti bebek” balas Chindai tak mau kalah
Ivan yang sedari tadi memperhatikan Bagas dan Chindai terus berdebat dan tak menjawab pertanyaan dari dirinya pun merasa kesal. Akhirnya, Ivan pun angkat bicara lagi.
“kak Bagasssss!!” jerit Ivan yang mulai merasa diabaikan oleh Bagas juga Chindai
“eh iya-iya, Van. Kak Bagas nggak nyium kak Chindai kok. Tadi di kening kak Chindai ada pasir jadi kak Bagas bersihkan deh keningnya” jawab Bagas sekenanya sambil nyengir nggak jelas lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya dan Chindai hanya mengiyakan jawaban dari Bagas
“ooh... jadi kalau teman Ivan ada pasir dikeningnya, Ivan boleh dong seperti kak Bagas tadi?” jawab dan Tanya Ivan lagi dengan watadosnya mampu membuat Bagas tersedak atas pertanyaan Ivan tadi
“uhuuukk.. uhuuukk”
“haaaaaaa!!! Jangan!!!” jawab Chindai histeris
“kenapa Kak?” Tanya Ivan lagi
“hmmm.. itu boleh dilakukan kalau Ivan punya orang yang Ivan saying. Contohnya seperti mama dan papa Ivan” jawab Chindai
“ooh.. yasudah nanti Ivan Tanya mama dan papa aja. Ivan mau lanjut makan lagi” jawab Ivan akhirnya berhenti bertanya juga membuat Bagas dan Chindai bias berafas lega.
-------------------------------------
Pagi ini tidak ada jadwal mata kuliah alias kuliah hari ini di liburkan karena adanya wisuda kakak-kakak tingkat di universitas Bagas dan Chindai. Hingga pagi ini Bagas ingin mengajak Chindai jalan-jalan berdua saja. Kenapa Bagas memilih jalan-jalan pagi hari? Ya, supaya Ivan dan Oca tidak meminta ikut bersama mereka. Bukan tidak mau mengajak Ivan dan Oca karena Bagas hanya ingin jalan berdua dengan Chindai.
Sebenarnya acara jalan-jalan ini dadakan karena dosen pagi ini hingga sore nanti yang mengajar mata kuliah bersangkutan berperan penting dalam wisuda nanti. Maka dari itu lebih baik mahasiswa/i nya diliburkan saja. Tentunya tugas tetap jalan walau libur setengah hari ataupun tak ada kuliah seharian.
Setelah selesai mandi, Chindai buru-buru mengganti baju dan berdandan biasa saja. Toh! Bukan dinner atau hal-hal yang romantic bukan?
Drrrrttttt
Satu getaran dari handphone Chindai menandakan ada sebuah sms.
‘gue ada di depan rumah lo, Ndai’
‘iya, lo masuk aja.. gue masih dikamar nih.’
‘okay, jangan terlalu dandan lo. Ntar gue ngak merem-merem liat lo dandan cantik banget’
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu kamar Chindai dari luar kamar. Chindai yang tadi sedang merias diri kini harus menghentikan sejenak aktifitasnya karena ketukan pintu kamarnya.
“iya sebentar” sahut Chindai dari dalam kamar dan berjalan menuju pintu kamar untuk membuka pintu kamarnya yang sengaja ia kunci
CEKLEK
Pintu kamar terbuka lebar dan ternyata yang mengetuk pintu kamar Chindai adalah Oca, dengan gaya berdiri angkuh sambil bersedekap tangan di dada lengkap dengan pakaian sekolahnya.
“eh ada Oca, ya.” Kata Chindai
“kak Chindai mau jalan sama kak Bagas ya?” Tanya Oca dengan wajah sewotnya
“hmmmm.. i... iya, Oca.” Jawab Chindai takut-takut, sepertinya Oca akan marah kalau dirinya hanya jalan berdua dengan Bagas
“kenapa nggak ajak Oca sama Ivan? Kakak jahaaatt” kata Oca yang kini mulai memasang wajah memelasnya, air mata nya tiba-tiba saja mengalir di kedua sudut matanya.
Chindai bingung sendiri mau jawab apa? Sebenarnya bukan dirinya lah yang mau jalan-jalan dengan Bagas tapi Bagas lah yang mengajak Chindai. Chindai mulai kebingungan saat tangisan Oca semakin kencang.
“huhuhuhu... mama.. papa...” tangis Oca mulai pecah
Tak lama terdengar derap langkah yang menuju kearah mereka. Chindai semakin panic, apalagi kalau misalnya langkah itu adalah langkah Om ataupun Tantenya. Bias-bisa digantung hidup-hidup sudah buat keributan di pagi hari (?)
“aduh.. aduh jangan nangis dong Oca. Bukan kakak yang mau jalan-jalan tapi kakak di ajak sama kak Bagas. Kalau kakak tolak nanti kak Bagasnya marah sama kakak, nanti kak Bagas enggak mau main lagi kerumah. Emang Oca mau?” jawab dan Tanya Chindai buru-buru
“enggak mau.. hiks.. hiks” jawab Oca sesegukan di sela tangisnya
“kalau Oca enggak mau, jadi kak Chindai harus terima ajakan kak Bagas jalan. Nanti kakak janji bakalan jemput Oca dan Ivan setelah pulang sekolah, gimana?” usul Bagas yang tiba-tiba datang
Chindai mengerutkan keningnya saat Bagas mengatakan sepeerti itu. Apa itu tandanya mereka akan menjemput Oca dan Ivan? Astaga! Apa nanti mereka akan dikira keluarga kecil yang lagi bahagia lagi?
Seketika tangis Oca berhenti saat Bagas bilang seperti tadi. Apa Oca akan mengiyakan ajakan Bagas? Kalau, Oca mengiyakan jawaban Bagas maka tamatlah riwayat Chindai bakalan di bilang Keluarga kecil yang berbahagia lagi?
“kak Bagas serius?” Tanya Oca sambil menghapus sisa air matanya yang tadi. Bagas hanya menganggukan kepalanya saja dan berjongkok untuk menyamai tinggi Oca.
“iya kak, Bagas. Serius.” Jawab Bagas, “jadi jangan nangis lagi ya” lanjut Bagas dan menagkup kedua pipi Oca dengan kedua tangannya.
“iya kak. Oca nggak nangis lagi” jawab Oca dan tersenyum manis dan memeluk Bagas dengan senyuman manisnya. Bagaspun membalas pelukkan Oca
----------------------------------------
Acara jalan pagi tadi harus ditunda dulu sebentar karena Oca meminta agar Bagas mengantar dirinya dan Ivan ke sekolah. Om dan Tante juga di buat cengo dengan keinginan Oca tersebut. Siapa papanya? Siapa mamanya? Tapi kenapa Oca malahan dekat sama Bagas?
Setelah mengantarkan Oca dan juga Ivan kesekolah, Bagas dan Chindai kembali ke rencana awal mereka yaitu jalan berdua. Bagas kini sedang menyetir mobil dan sesekali membagi focus antara kearah jalanan dan sesekali melirik Chindai yang ada disampingnya.
“Ndai” panggil Bagas
“iya, kenapa Gas?” jawab dan Tanya Chindai dan melirik kearah Bagas
“diem aja daritadi, kenapa?” Tanya Bagas. Chindai menggelengkan kepalanya
“nggak apa-apa kok” jawab Chindai
“beneran?” Tanya Bagas meyakimkam lagi
“iya, Bagas. Nyetir aja dulu yang bener”
“iya-iya”
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sekolah Ivan dan Oca karena harus memutar jalan. Tujuan Bagas dan Chindai saat ini adalah mall terbesar di Jakarta.
“mall?” Tanya Chindai karena mobil berhenti diparkiran mall saat ini. Bagas melirik Chindai sekilas dan menganggukan kepalanya
“iya, kenapa?” Tanya Bagas
“kalau hanya ke mall buat apa sepagi ini, Gas” dengus Chindai kesal dengan sifat Bagas pagi ini
“kalau agak siangan yang ada Ivan dan Oca pasti akan ikut kita dan kita enggak ada waktu buat berdua, Cindai” jelas Bagas. Chindai membuang muka kearah kaca jendela mobil Bagas dan tersenyum kecil
Berjalan berdua memutari setiap lorong yang ada di mall ini dan sesekali saling jail antara satu dengan yang lainnya ini yang membuat waktu berjalan cepat. Chindai menjahili Bagas sampai-sampai Bagas merajuk saat kejahilan Chindai membuat mood Bagas hilang. Sebenarnya, Bagas tidak merajuk kepada Chindai, hanya saja Bagas sedang mengerjai Chindai saja.
“Gas, ayolah.. gue kan tadi cuman bercanda aja loh.” Kata Chindai yang terus mencoba mengembalikan mood Bagas hari ini
“tau ah! Gue bĂȘte sama lo, Ndai. Jailnya lo kelewatan batas” ujar Bagas dengan dingin
“ish! Lo bener-bener nyebelin tau nggak. Gue mau balik aja kalau gitu” jawab Chindai tak kalah cuek dan mengentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Bagas. Bagas hanya cengo melihat Chindai yang pergi meninggalkan dirinya.
‘Lah? Itu anak kok jadi sewot ke gue sih? Kan seharusnya gue yang sewot sama itu orang’ dengus Bagas dan berlari meghampiri Chindai
---------------------
Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.
“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya
“ngapain kesini?” kata Chindai ketus
“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng
“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin
“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya
“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.
“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas
Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.
“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal
“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek
“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya
“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”
“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”
“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek
“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar
“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas
‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.
----------------------------------------------------
Bersambung....
1. @[100006453551554:]
2. @[100002266285838:]
3. @[100007787853476:]
4. @[100002651698312:]
5. @[100004591685691:]
6. @[100009092797730:]
7. @[100006404793025:]
8. @[100008370602081:]
9. @[100003045598252:]
10. @[100005614054591:]
11. @[100003524813209:]
12. @[100006942603463:]
13. @[100008460871079:]
14. @[100008046818920:]
15. @[100006213302859:]
16. @[100004411331132:]
17. @[100004507652023:]
18. @[100004748135843:]
19. @[100006130530654:]
20. @[100004748135843:]
21. @[100004507652023:]
22. @[100004934895154:]
23. @[100004463536496:]
24. @[100004748135843:]
25. @[100004934895154:]
26. @[100003108641220:]
27. @[100004539939103:]
28. @[100003722571587:]
29. @[100007894775125:]
30. @[100004481493762:]
31. @[100004539939103:]
32. @[100008029981128:]
33. @[100006179553185:]
34. @[100007990627477:]
Selasa, 03 November 2015
Bagas Rahman Dwi Saputra
Perjalanan Hidup Bagas
RDS
Bagas dilahirkan
dari rahim seorang wanita
cantik bernama Irawati
Ciknawi, di rumah sakit RS
Muhammad Husein
Palembang, pada hari sabtu
tanggal 6 mei 2000.
Kedamaian senja di sore itu
terpecahkan oleh suara oek-
oek Bagas. Kelahiran Bagas
yg sudah ditunggu banyak
orang di dunia ini berjalan
dengan lancar.
Saat bagas lahir,
papa Bagas yang bernama
Erlangga langsung
mengumandangkan adzan di
telingan Bagas. Semua yg
sedang bergalau ria dan
berharap-harap cemas di
luar ruangan, begitu
mendengar tangisan Bagas
langsung teriak histeris.
Alhamdulilah yaa sesuatu.
Gitu katanya. hehehe
Ehmm kalian tau
ngga sih, sebelum Bagas
lahir, orang tua Bagas sudah
nyiapin segala sesuatu buat
Bagas. Mulai dari baby box,
baju bayi, mainan-mainan,
popok, makanan bayi, hingga
nama pun udah tersedia buat
Bagas. Bagas diberi nama
BAGAS RAHMAN DWI
SAPUTRA yang artinya
SEORANG LAKI-LAKI YG
KUAT, PEMBELAS KASIHAN
BAGI ANAK KE-2
Bagas menghabiskan
masa kecilnya di rumahnya
yang beralamat di
JL.sembaja, komp taman
murni ,lrg harapan nomor 28
RT 13 RW 03 Kelurahan
Alang2 lebar,Km12
palembang. Masa kecil yang
bahagia bersama kakaknya,
Aditya Yudistira Pratama.
Perbedaan usia yang hanya
beberapa tahun membuat
Bagas dan Adit sangat dekat.
Kata mama ira nih,
saat Bagas balita, teman-
temannya papa dan mama
Bagas kalau kerumahnya
Bagas pasti nyubitin pipi
Bagas. Katanya sih, Bagas
nggemesin.
Waktu kecil, Bagas
dan Adit tuh bandel banget.
Nakal, jail, aktiv, halaah
pokoknya ngga bisa diem deh.
Sehari-hari Bagas bermain
bersama Adit dan mama-nya..
Orang tua bagas sangat baik
karena setiap mereka punya
waktu luang pasti ngajak
Bagas dan Adit tamasya
Sejak kecil, papa
Bagas sudah mencari dan
mengembangkan bakat Bagas
dan Adit. Bakat menyanyi
dan bermain music yang
dimiliki Bagas sudah tampak
sejak ia masih kecil. Maka
dari itu umur 3 tahun Bagas
dibelikan keyboard oleh
papanya. Lagu pertama yang
dipelajari Bagas dengan
iringan keyboard adalah
Aishiteru lagunya Zivilia
Umur 6 tahun Bagas
mulai bersekolah di SDN 156
Palembang. Kalau sekolah
dia dianter sama omnya
pakai motor beat merah.
Awal masuk SD Bagas sudah
dikenal guru-guru karena
Bagas tergolong siswa
pandai dan berbakat. Kakak
kelas Bagas banyak yang
suka sama Bagas. Ketika ada
acara sekolah Bagas tak
segan-segan mengisi acara
tersebut dengan menyanyi dan
bermain keyboard. Bagas
bercita-cita menjadi musisi
terkenal.
Tahun 2007 Bagas
punya adik namanya Cindy
Tri Salsabila. Bagas senang
punya adik baru, tapi setiap
hari dia jailin Cindy, dia
ngga akan berhenti ngejailin
sampai Cindy menangis.
Duhhh bagaaasss..
420775_207692415994984_2778
Semakin hari Bagas
makin menekuni bakatnya
dibidang music. Akhir tahun
2007 dia menjadi keyboardist
di Artalata Band.
Tahun 2008 adalah
tahun berharga untuk Bagas
karena di tahun itu Bagas
mulai menorehkan banyak
prestasi. Diantaranya
mendapat juara 1 di
Pemilihan Wajah Sumex kids
( Majalah Palembang ) dan
Juara 1 vocal Indomaret su-
Sumatera Selatan
Selama di SD, Bagas
punya genk. Nama teman 1
genk-nya itu Miranti, Dhafni,
Rizky, Iin,Nabila, Ajeng,
Ricco, Michael, Ayuwidya,
dan inggi. Di sekolah, Bagas
sering mentraktir teman-
temannya.
484156_227749917358095_1911
Saat SD, Bagas
pernah digosipkan pacaran
sama Inggi ( yaaahh
namanya juga anak-anak ).
Bagas pernah dikejar-kejar
sama cewe kecentilan
namanya novita. tapi bagas
sukanya sama inggi soalnya
pendiam dan sholeh.
Hehehee..
Bagas pernah meraih
Juara I Kreativitas Siswa
tahun 2009.
Pada tahun 2010, saat
Bagas kelas 5 SD, Bagas dan
Adit mengikuti audisi
Indonesia Mencari Bakat dan
lolos. Itu pertama kalinya
Bagas tampil di tv dalam
ajang pencarian bakat. Saat
itu salah satu jurinya adalah
Ariel peterpan. Bagas dan
Adit hanya bertahan sampai
36 besar.
Setelah gugur dari
IMB, Bagas fokus di Vanser
Kids Band. Di grup band
Vanserkids yang ia bentuk
tahun 2009 bersama Adit,
Bagas berperan sebagai
vokalis dan juga memainkan
keyboard.
Papa Bagas
membuatkan studio Vanser
Kids Band yang tak jauh dari
rumah Bagas. Sejak saat itu
mulai banyak tawaran
manggung di sana-sini untuk
Vanser Kids Band. Antara
lain Acara pemerintahan
daerah Palembang, Acara
O2SN, Acara pernikahan
( hamper setiap minggu ),
Acara promo produk-produk
di Palembang, Acara-acara
pentas seni di sekolah, dan
manggung di mall-mall
Palembang.
Fans Vanser Kids
Band banyak lhooo.. sebutan
untuk fans Vanser Kids Band
itu Vanseris.
483474_353049588125932_1387
Sejak punya band,
Bagas sering upload video
nyanyi-nya di youtube. nama
akun youtubenya bagas yaitu
Bagas R. Dwi Saputra.
Masih di tahun 2010,
Bagas mewakili Sumatera
dalam ajang vocal Indomaret
di Jakarta tingkat Nasional.
Tahun 2011, Bagas
meraih prestasi lagi lhoo..
yaitu Juara 1 Festival Seni
Budaya Siswa Nasional SD
se-sumatera Selatan. Setelah
itu dia mewakili Sumatera
Selatan dalam Festival Seni
Budaya Siswa Nasional di
Makassar.
Bagas lulus dari SD N
156 palembang tahun 2012
dan meneruskan sekolah ke
SMP N 11 Palembang. Awal
masuk SMP Bagas mengikuti
pemilihan Bintang sekolah
XL dan mendapat juara 1.
254611_240396102760143_1443
Tahun 2012 Bagas
mengIkuti audisi Idola Cilik.
Saat audisi, bagas
menyanyikan lagu Ya saman
dan Insya Allah. Jurinya
adalah Mama Ira, Kak winda,
dan Umay.
198430_326438560787035_1077
Akhirnya Bagas dapat
bintang biru. Berangkatlah
Bagas ke Jakarta.
528627_327106177386940_4411
Sejak pertama tampil
di panggung IC, Bagas sudah
punya banyak fans lhoo..
Nama fans Bagas adalah
Bagaslovers. Saat itu yang
mengurus Bagaslovers adalah
kakak-kakak Bagaslovers
seperti Renisya, Vira,
Ichtiarzee, Sandi Marono,
dll.
Gloria Chindai Lagio
Gloria Cindai Lagio itulah
nama dari dara manis dari pasangan bapak Yusuf dan ibu sonya asal Kiawa -
Kawangkoan (Minahasa- SULUT) yang telah berhasil menjadi kontestan Idola Cilik
2013 RCTI , yang terus menuai pujian juri maupun para penonton dalam ajang Idola
Cilik 2013. Harus diakui memang suara dan penampilannya terus konsisten sejak
awal sampai masuk ke babak 4 besar dan sangatlah pantas Meraih Hak BINTANGKU (
hak veto ) dari RCTI . Putri bungsu dari seorang Kostor (pembantu di Gereja)
ini semakin melambung dengan penampilannya yang mampu membawakan berbagai jenis
lagu entah pop atau keroncong.
Hal yang patut diacungi
jempol dari Cindai adalah dia selalu memanjatkan syukur kepada Tuhan Yesus atas
penyertaan Tuhan yang memberinya lolos ke kesempatan berikutnya. Cindai dalam
berbagai kesempatan juga mengakui bahwa bakat dan talentanya adalah anugerah
Tuhan.
Tidak heran karena dia datang
dari penyanyi gereja (Sekolah Minggu) di gerejanya.
Pentas dan babak demi babak
penyisihan dia lewati, pastinya bukan hal yang mudah bagi Cindai. Belum lagi
kerap dia harus bersaing ketat untuk beroleh dukungan sms karena penentuan juga
kembali kepada dukungan sms yang diterimanya. Proses yang seperti ini
membuatnya justru membentuknya menjadi seorang penyanyi yang memiliki mental
yang tangguh karena pencapaiannya itu tidak selamanya mudah dan lancar.
Dukungan penonton lambat laun makin deras mengalir dan ini hal yang patut
disyukuri oleh Cindai.
Cindai sedari kecil memang
suka menyanyi. Dia mulai belajar nyanyi tepatnya usia 2,8 tahun dengan
mendengarkan lagu dari radio. Menyadari anaknya diberikan anugerah vokal yang
bagus, Mamanya Sonya Karinda menyarankan Cindai untuk menjadi penyanyi. Cindai
awalnya selalu menolak karena tidak percaya diri. Cindai kemudian mulai tampil
untuk menyanyi di Gereja GMIM Zaitun Kiawa.
Ia mengikuti perlombaan
menyanyi tingkat Sekolah Minggu dan lomba vokal lainnya dan berhasil meraih
juara. Berkat kemampuan vokalnya luar biasa dia sering mendapat undangan untuk
tampildi berbagai tempat di daerah Minahasa untuk nyanyi dalam berbagai
kesempatan atau acara.
Satu hal yang mengagumkan
bahwa dia ingin menyanyi untuk membahagiakan keluarganya danjuga untuk
memuliakan Tuhan. Cindai saat ini masih terbilang amat muda, 12 tahun tapi
dengan bakatnya yang luar biasa dia siap untuk mengembangkan sayap untuk
terbang lebih tinggi. Semoga
Sukses Selalu Buat Cindai.
Jalan Cindai Masih panjang... Terus asah kemampuan kamu .... SEMOGA BISA GO
INTERNASIONAL
Langganan:
Komentar (Atom)




















































































































