Rabu, 11 November 2015

CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part8

CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part8
Penulis : @OliviaaHaloho

------------------------------------

Maaf ya semua cerbung ini ngaretnya minta ampun. Saya masih sibuk sama kuliah dan kegiatan lainnya diluar jam kuliah. Jadi tolong saling mengerti ya. Saya akan lanjut cerbung ini sampai END walau waktu ngepost agak lama dan ngaret.

-----------------------------------------

Part 7 : https://m.facebook.com/groups/155453907965587?message_id=508162472694727&_rdr

-------------------------------------

"Ooh iya-iya, makasih ya mba. Makasih juga es creamnya buat keluarga kami" jelas Bagas santai dan sang pelayan hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari meja restoran Bagas.

Kali ini Chindai lagi-lagi membulatkan matanya dengan sempurna karena mendengar penuturan Bagas tadi.

"Heh, Gas! Lo apa-apaan sih? Kok lo bilang kita-kita keluarga kecil lo sih?" Tanya Chindai sewot

"Ssssstt.. Diem aja deh, makan aja." Jawab Bagas santai

"Ish lo! Rese tau nggak" jawab Chindai lagi lalu memalingkan wajahnya

"Karena gue memang ingin lo jadi ibu dari anak-anak gue nanti. Gue suka dan gue cinta sama lo" bisik Bagas tepat di telinga kiri Chindai. Dan berhasil membuat Chindai menoleh cepat kearah Bagas.

CUP!!!

Satu kecupan mendarat di kening Chindai. Oca dan Ivan yang melihatnya hanya menggedipkan matanya melihat Bagas mencium Chindai dihadapan mereka.

-----------------------

Chindai membolakan matanya. Kerena Bagas berani-beraninya menyium dirinya di depan umum juga di depan Oca dan Ivan. Tak lama kemudian Bagas mengakhiri ciumannya di kening Chindai, dan saat itu Chindai langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.

“kak Bagas ngapain cium kakak Chindai?” Tanya Ivan tiba-tiba dan langsung membuat Bagas menoleh cepat kearah Ivan dan Chindai langsung menegakkan kepalanya lagi saat mendengar pertanyaan dari Ivan

“hmmm.. a.. anu loh, Van” jawab Bagas gelagapan saat dirinya tertangkap basah mencium Chindai di hadapan Ivan juga Oca. Bagas melirik Chindai bermaksud member kode agar membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ivan..
Namun Chindai hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dirinya juga tidak tau harus menjawab apa. Toh yang mulai mencium dirinya Bagas bukan Chindai. Bagas hanya menghembuskan nafas beratnya saat mendapatkan pertanyaan Chindai yang tidak sesuai harapannya.

“nyeselin lo” dengus Bagas kesal

“lo juga main nyosor aja seperti bebek” balas Chindai tak mau kalah

Ivan yang sedari tadi memperhatikan Bagas dan Chindai terus berdebat dan tak menjawab pertanyaan dari dirinya pun merasa kesal. Akhirnya, Ivan pun angkat bicara lagi.

“kak Bagasssss!!” jerit Ivan yang mulai merasa diabaikan oleh Bagas juga Chindai

“eh iya-iya, Van. Kak Bagas nggak nyium kak Chindai kok. Tadi di kening kak Chindai ada pasir jadi kak Bagas bersihkan deh keningnya” jawab Bagas sekenanya sambil nyengir nggak jelas lalu menyuapkan makanan kedalam mulutnya dan Chindai hanya mengiyakan jawaban dari Bagas

“ooh... jadi kalau teman Ivan ada pasir dikeningnya, Ivan boleh dong seperti kak Bagas tadi?” jawab dan Tanya Ivan lagi dengan watadosnya mampu membuat Bagas tersedak atas pertanyaan Ivan tadi

“uhuuukk.. uhuuukk”

“haaaaaaa!!! Jangan!!!” jawab Chindai histeris

“kenapa Kak?” Tanya Ivan lagi

“hmmm.. itu boleh dilakukan kalau Ivan punya orang yang Ivan saying. Contohnya seperti mama dan papa Ivan” jawab Chindai

“ooh.. yasudah nanti Ivan Tanya mama dan papa aja. Ivan mau lanjut makan lagi” jawab Ivan akhirnya berhenti bertanya juga membuat Bagas dan Chindai bias berafas lega.

-------------------------------------

Pagi ini tidak ada jadwal mata kuliah alias kuliah hari ini di liburkan karena adanya wisuda kakak-kakak tingkat di universitas Bagas dan Chindai. Hingga pagi ini Bagas ingin mengajak Chindai jalan-jalan berdua saja. Kenapa Bagas memilih jalan-jalan pagi hari? Ya, supaya Ivan dan Oca tidak meminta ikut bersama mereka. Bukan tidak mau mengajak Ivan dan Oca karena Bagas hanya ingin jalan berdua dengan Chindai.

Sebenarnya acara jalan-jalan ini dadakan karena dosen pagi ini hingga sore nanti yang mengajar mata kuliah bersangkutan berperan penting dalam wisuda nanti. Maka dari itu lebih baik mahasiswa/i nya diliburkan saja. Tentunya tugas tetap jalan walau libur setengah hari ataupun tak ada kuliah seharian.

Setelah selesai mandi, Chindai buru-buru mengganti baju dan berdandan biasa saja. Toh! Bukan dinner atau hal-hal yang romantic bukan?

Drrrrttttt

Satu getaran dari handphone Chindai menandakan ada sebuah sms.

‘gue ada di depan rumah lo, Ndai’

‘iya, lo masuk aja.. gue masih dikamar nih.’

‘okay, jangan terlalu dandan lo. Ntar gue ngak merem-merem liat lo dandan cantik banget’

Tok Tok Tok

Terdengar suara ketukan pintu kamar Chindai dari luar kamar. Chindai yang tadi sedang merias diri kini harus menghentikan sejenak aktifitasnya karena ketukan pintu kamarnya.

“iya sebentar” sahut Chindai dari dalam kamar dan berjalan menuju pintu kamar untuk membuka pintu kamarnya yang sengaja ia kunci


CEKLEK

Pintu kamar terbuka lebar dan ternyata yang mengetuk pintu kamar Chindai adalah Oca, dengan gaya berdiri angkuh sambil bersedekap tangan di dada lengkap dengan pakaian sekolahnya.

“eh ada Oca, ya.” Kata Chindai

“kak Chindai mau jalan sama kak Bagas ya?” Tanya Oca dengan wajah sewotnya

“hmmmm.. i... iya, Oca.” Jawab Chindai takut-takut, sepertinya Oca akan marah kalau dirinya hanya jalan berdua dengan Bagas

“kenapa nggak ajak Oca sama Ivan? Kakak jahaaatt” kata Oca yang kini mulai memasang wajah memelasnya, air mata nya tiba-tiba saja mengalir di kedua sudut matanya.

Chindai bingung sendiri mau jawab apa? Sebenarnya bukan dirinya lah yang mau jalan-jalan dengan Bagas tapi Bagas lah yang mengajak Chindai. Chindai mulai kebingungan saat tangisan Oca semakin kencang.

“huhuhuhu... mama.. papa...” tangis Oca mulai pecah

Tak lama terdengar derap langkah yang menuju kearah mereka. Chindai semakin panic, apalagi kalau misalnya langkah itu adalah langkah Om ataupun Tantenya. Bias-bisa digantung hidup-hidup sudah buat keributan di pagi hari (?)

“aduh.. aduh jangan nangis dong Oca. Bukan kakak yang mau jalan-jalan tapi kakak di ajak sama kak Bagas. Kalau kakak tolak nanti kak Bagasnya marah sama kakak, nanti kak Bagas enggak mau main lagi kerumah. Emang Oca mau?” jawab dan Tanya Chindai buru-buru

“enggak mau.. hiks.. hiks” jawab Oca sesegukan di sela tangisnya

“kalau Oca enggak mau, jadi kak Chindai harus terima ajakan kak Bagas jalan. Nanti kakak janji bakalan jemput Oca dan Ivan setelah pulang sekolah, gimana?” usul Bagas yang tiba-tiba datang

Chindai mengerutkan keningnya saat Bagas mengatakan sepeerti itu. Apa itu tandanya mereka akan menjemput Oca dan Ivan? Astaga! Apa nanti mereka akan dikira keluarga kecil yang lagi bahagia lagi?

Seketika tangis Oca berhenti saat Bagas bilang seperti tadi. Apa Oca akan mengiyakan ajakan Bagas? Kalau, Oca mengiyakan jawaban Bagas maka tamatlah riwayat Chindai bakalan di bilang Keluarga kecil yang berbahagia lagi?

“kak Bagas serius?” Tanya Oca sambil menghapus sisa air matanya yang tadi. Bagas hanya menganggukan kepalanya saja dan berjongkok untuk menyamai tinggi Oca.

“iya kak, Bagas. Serius.” Jawab Bagas, “jadi jangan nangis lagi ya” lanjut Bagas dan menagkup kedua pipi Oca dengan kedua tangannya.

“iya kak. Oca nggak nangis lagi” jawab Oca dan tersenyum manis dan memeluk Bagas dengan senyuman manisnya. Bagaspun membalas pelukkan Oca

----------------------------------------

Acara jalan pagi tadi harus ditunda dulu sebentar karena Oca meminta agar Bagas mengantar dirinya dan Ivan ke sekolah. Om dan Tante juga di buat cengo dengan keinginan Oca tersebut. Siapa papanya? Siapa mamanya? Tapi kenapa Oca malahan dekat sama Bagas?

Setelah mengantarkan Oca dan juga Ivan kesekolah, Bagas dan Chindai kembali ke rencana awal mereka yaitu jalan berdua. Bagas kini sedang menyetir mobil dan sesekali membagi focus antara kearah jalanan dan sesekali melirik Chindai yang ada disampingnya.

“Ndai” panggil Bagas

“iya, kenapa Gas?” jawab dan Tanya Chindai dan melirik kearah Bagas

“diem aja daritadi, kenapa?” Tanya Bagas. Chindai menggelengkan kepalanya

“nggak apa-apa kok” jawab Chindai

“beneran?” Tanya Bagas meyakimkam lagi

“iya, Bagas. Nyetir aja dulu yang bener”

“iya-iya”

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sekolah Ivan dan Oca karena harus memutar jalan. Tujuan Bagas dan Chindai saat ini adalah mall terbesar di Jakarta.

“mall?” Tanya Chindai karena mobil berhenti diparkiran mall saat ini. Bagas melirik Chindai sekilas dan menganggukan kepalanya

“iya, kenapa?” Tanya Bagas

“kalau hanya ke mall buat apa sepagi ini, Gas” dengus Chindai kesal dengan sifat Bagas pagi ini

“kalau agak siangan yang ada Ivan dan Oca pasti akan ikut kita dan kita enggak ada waktu buat berdua, Cindai” jelas Bagas. Chindai membuang muka kearah kaca jendela mobil Bagas dan tersenyum kecil

Berjalan berdua memutari setiap lorong yang ada di mall ini dan sesekali saling jail antara satu dengan yang lainnya ini yang membuat waktu berjalan cepat. Chindai menjahili Bagas sampai-sampai Bagas merajuk saat kejahilan Chindai membuat mood Bagas hilang. Sebenarnya, Bagas tidak merajuk kepada Chindai, hanya saja Bagas sedang mengerjai Chindai saja.

“Gas, ayolah.. gue kan tadi cuman bercanda aja loh.” Kata Chindai yang terus mencoba mengembalikan mood Bagas hari ini

“tau ah! Gue bête sama lo, Ndai. Jailnya lo kelewatan batas” ujar Bagas dengan dingin

“ish! Lo bener-bener nyebelin tau nggak. Gue mau balik aja kalau gitu” jawab Chindai tak kalah cuek dan mengentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Bagas. Bagas hanya cengo melihat Chindai yang pergi meninggalkan dirinya.

‘Lah? Itu anak kok jadi sewot ke gue sih? Kan seharusnya gue yang sewot sama itu orang’ dengus Bagas dan berlari meghampiri Chindai

---------------------

Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.

“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya

“ngapain kesini?” kata Chindai ketus

“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng

“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin

“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya

“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.

“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas

Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.

“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal

“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek

“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya

“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”

“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”

“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek

“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar

“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas

‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.

----------------------------------------------------

Bersambung....
1. @[100006453551554:]
2. @[100002266285838:]
3. @[100007787853476:]
4. @[100002651698312:]
5. @[100004591685691:]
6. @[100009092797730:]
7. @[100006404793025:]
8. @[100008370602081:]
9. @[100003045598252:]
10. @[100005614054591:]
11. @[100003524813209:]
12. @[100006942603463:]
13. @[100008460871079:]
14. @[100008046818920:]
15. @[100006213302859:]
16. @[100004411331132:]
17. @[100004507652023:]
18. @[100004748135843:]
19. @[100006130530654:]
20. @[100004748135843:]
21. @[100004507652023:]
22. @[100004934895154:]
23. @[100004463536496:]
24. @[100004748135843:]
25. @[100004934895154:]
26. @[100003108641220:]
27. @[100004539939103:]
28. @[100003722571587:]
29. @[100007894775125:]
30. @[100004481493762:]
31. @[100004539939103:]
32. @[100008029981128:]
33. @[100006179553185:]
34. @[100007990627477:]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar