Rabu, 06 Januari 2016

"Cerbung You're My Flashlight" (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part9

CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part9
Penulis : @OliviaaHaloho

------------------------------------

Langsung aja yuk
Cekidot………………

-----------------------------------------

---------------------------------------

Bagas terus berlari mencari Chindai disetiap lorong mall tersebut. Bagas takut kalau Chindai nyasar karena, ini pertama kalinya Chindai dikota Jakarta. Mata Bagas terus menyapu disetiap sudut mall, kaki Bagas terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap lorong yang tadi ia dan Chindai lalui. Ntah kenapa kaki Bagas berjalan kearah toko aksesoris wanita. Dan benar saja! Chindai ada di dalam toko tersebut, Bagas terseyum lega dan berjalan menghampiri Chindai.

“Ndai” tegur Bagas dan menyentuh pundak Chindai yang sedang memilih-milih kalung. Chindai hanya menatap sinis kearah Bagas yang tersenyum manis kepada dirinya

“ngapain kesini?” kata Chindai ketus

“ya nyariin lo lah” jawab Bagas enteng

“masih peduli lo? Tadi aja marah-marah sama gue” jawab Chindai dingin

“idih! Dingin banget ngejawab, neng. Jelek tau” kata Bagas terkekeh dan menarik pelan hidung Chindai. Chindai meringis dan menepis tangan Bagas yang ada dihidungnya

“ish! Jangan pegang-pegang. Nanti hidung gue nggak mancung lagi” jawab Chindai dan megusap-ngusap hidungnya yang memerah dan sejetika tawa Bagas pecah, banyak pasang mata yang memperhatikan Bagas dan dengan sigap Chindai membekap mulut Bagas.

“hmmmpppptttt” kata Bagas yang berusaha melepaskan bekapan dari tangan Chindai, Chindai tak mau ambil pusing langsung saja Chindai menarik Bagas keluar toko tersebut sambil membekap Bagas

Saat sudah diluar toko tersebut Chndai melepaskan bekapan yang dimulut Bagas. Terlihat wajah Bagas memerah dan nafas yang memburu. Chindai menatap Bagas dengan tatapan sinis.

“gila lo, Ndai. Mau buat mati” kata Bagas dengan nafas yang tersenggal-senggal

“habisnya lo sih rese, Gas.” Jawab Chindai jutek

“rese? Rese kenapa gue?” Tanya Bagas yang mulai stabil dengan nafasnya

“iya, lu rese pakai acara ketawa kenceng banget lagi. Malu tau!”

“ya maaf, gue keceplosan. Habisnya sih lo lucu banget tau, Ndai”

“lucu apa coba? Gue ngelawak aja nggak” jawab Chindai jutek

“iya, lo itu lucu tau gak. Masa hidung seperti ini dibilang mancung sih” gemas Bagas sambil memencet hidung Chindai, Chindai menepisnya dengan kasar

“terus... terus aja ledekin gue sepuas lo, Gas!” sentak Chindai dan berjalan menjauh dari Bagas

‘eitsss dan! Itu anak dari tadi sewot mulu bawaannya sama gue.” Dumel Bagas, “lagi dapet kali ya. Hihihihi” lanjut Bagas terkekeh sendiri yang melihat tingkah konyol Chindai hari ini dan berjalan menghampiri Chindai yang seudah berjalan jauh dari dirinya.

----------------------------------------------------

“Ndai” panggil Bagas dengan intonasi tinggi, namun Chindai tak menggubrisnya

“Cindai!” panggil Bagas lagi yang kini menaikkan satu oktaf suaranya.

Ini nih hal yang buat Chindai tidak suka sama Bagas. Sekali aja enggak di gubris omongannya, langsung aja main keras-keras suara.

“apaan sih, Gas? Malu tau” jawab Chindai jutek. Bagas hanya mengulum senyum saat melihat wajah jutek Chindai yang menurutnya lucu

“lo juga sih, main-main tinggalin gue terus main jutek-jutekin gue.” Jawab Bagas tak kalah sewotnya padahal hanya bercanda

“lo itu yang nyebelin tau enggak”

“masa sih? Perasaan enggak deh” jawab Bagas polos

“ih! Lo itu...errrrr” jawab Chindai mengepalkan kedua tangannya yang teangkat dan menghentakkan kakinya yang merasa geram sama sifat Bagas yang sok polos

“hahaha” tawa Bagas saat melihat ekspresi Chindai yang menggemaskan

“kenapa lo ketawa-ketawa?” Tanya Chindai

“gemes aja gue liat lo pasang ekspresi seperti itu” kata Bagas “udah deh, berhenti marah-marahnya. Sekarang lebih baik kita makan terus jempu Ivan sama Oca, mereka 1 jam 30menit lagi pulang.” lanjut Bagas dan menggandeng tangan Chindai menuju restoran yang ada di dalam mall tersebut. Walau ada penolakkan dari Chindai namun Bagas tak habis piker di genggamnya tangan Chindai lumanyan kuat, hingga Chindai meringis kesakitan.

“Gas, lepasin. Sakit tangan gue” lirih Chindai. Perlahan tangan Bagas melepaskan genggaman tangan Chindai. Chindai mulai mengusap-usapkan pergelangan tangannya

“mmafin gue” desah Bagas penuh penyesalan. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja. “Ayo kita makan, setelah itu kita jemput Ivan dan Oca” lanjut Bagas. Chindai tak berani menatap Bagas, dia hanya berjalan terlebih dahulu kedalam restoran yang ada di mall tersebut, Bagas menghela nafas saat Chindai kini cuek kepada dirinya

-----------------------------------

Kini Bagas dan Chindai sudah berada di luar mall. Sejak kejadiaan tadi Chindai jadi mendiamkan Bagas. Bagas menghela nafas berat dari tadi dirinya mengoceh panjang kali lebar tapi tak mendapatkan respon dari Chindai.

“Ndai, jangan cuekkin gue mulu dong. Gue tau gue salah tapi engga harus di cuekkin kan?” Tanya Bagas sewot

“udah deh nyetir aja yang bener” jawab Chindai dingin, sebenarnya Chindai juga tak tega harus terus menerus cuek sama Bagas tapi mau gimana lagi, Bagas yang kelewatan jailnya. Ya, harus dikasih pelajaran seperti ini.

”ih! Galak banget neng. Nanti cepat tua loh. Akang enggak bakalan jatuh cinta lagi sama eneng” ceplos Bagas. Chindai menggerjap-ngerjapkan matanya, apa? Apa yang tadi dikatakan Bagas?

‘Jatuh Cinta? Jatuh Cinta sama siapa coba?’ dengus Chindai dalam hati

“maksud lo?” jawab dan Tanya Chindai

Bagas tersenyum senang melihat Chindai yang kepo seperti ini.

“iya, gue lagi jatuh cinta” jawab Bagas sambil memperhatikan Chindai sekilas dan kembali focus ke arah jalan

“ooh, terus gue harus peduli gitu?” Tanya Chindai ketus. Bagas terkekeh mendengar jawaban Chindai jadi ketus seperti ini.

“lo engga mau tau gitu siapa cewe yang berhasil merebut hati gue?” Tanya Bagas

“enggak” jawab Chindai jutek

“ih! Lo kok enggak mau tau siapa cewenya, Ndai?”

“gue engga perduli dan gue engga mau tau, Bagasss” jawab Chindai dengan nada kesel

“enggak boleh gitu dong, lo harus tanya siapa ceweknya” jawab Bagas enteng. Chindai menghembuskan nafas berat.

“memangnya gue harus tau gitu?” jawab Chindai dan melirik kearah Bagas. Bagas hanya menganggukkan kepalanya

“yasudah, siapa cewe itu? Puaskan lo?” jawab Chindai

“ah! Gue enggak mau lo nanya begitu, harus nanya baik-baik dong” jawab Bagas. Chindai mendengus kesel kearah Bagas

‘ini anak rese banget sih, sudah disuruh nanya, pas ditanya malah ngeledek’ dumel Chindai di dalam hati

“Eh, Ndai! Buruan” buyar Bagas

“iya-iya.. bawel lo” jawab Chindai, “Bagas.. siapa cewe beruntung itu?” Lanjut Chindai dengan memasang wajah semanis mungkin. Bagas tersenyum senang di dalam hatinya melihat Chindai seperti tadi, seperti ada gejolak di dalam dadanya saat Chindai berbicara semanis ini.

Terlihat Bagas menepikan mobilnya dan membuat kening Chindi berkerut. Banyak pertanyaan yang mengganjal hatinya.

“ih, Bagas, untuk apa lo stopin mobil lo disini sih? Oca dan Ivan nanti kelamaan menunggu” omel Chindai kepada Bagas. Lagi-lagi Bagas mau membuat Chindai naik darah.

“ssstttt.. diem aja kenapa sih? Dari tadi bawel mulu” jawab Bagas tak kalah sewot, “lo kan mau tau ceweknya, yasudah gue pengen cerita sama lo tentag siapa itu ceweknya” lanjut Bagas

“kan lo bisa bilang sambil nyetir, Bagaaaassss!” geram Chindai akan sifat Bagas kali ini

“kalau nyetir sambil ngobrol itu bahaya tau, apalagi gue lagi antusias buat cerita ke lo siapa cewe yang gue maksud” jawab Bagas enteng dan tersenyum

‘Ih! Ini cowo lama-lama buat gue sebel aja. Engga bisa apa buat gue seneng dekat sama dia’ dumel Chindai

“heh, Ndai. Kenapa lo jadi diem? Lo pasti lagi ngedumel kan di dalam hati” tebak Bagas

SKAK!!! Chindai terlihat kelagapan saat Bagas bisa menebak dirinya sedang ngedumel di dalam hati. Apa Bagas bisa dengar suara hati Chindai? -___-

“e...enggak, kata siapa? Buruan deh nanti Ivan dan Oca kelamaan menunggu” jawab Chindai sesantai mungkin

“gue engga akan ke sekolah Oca dan Ivan sebelum lo bertanya siapa cewe yang gue maksud tadi” jawab Bagas dan membuat Chindai jengkel sendiri dengan kelakuan Bagas ini

“oke.. oke..” jawab Chindai menghela nafas panjang, “siapa cewe yang berhasil merebut hati lo” lanjut Chindai sesantai mungkin

“lo yakin mau tau siapa cewenya?” Tanya Bagas memastikan lagi. Chindai hanya menganggukan kepalanya saja.

“yakinnn?” goda Bagas yang kini memajukan wajahnya hingga tepat di depan Chindai. Chindai menelan saliva nya karena jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, saat berdekatan dengan Bagas dengan jarak sedekat ini.

“i...iya, Gas” jawab Chindai gugup

“ceweknya itu... kamu, Ndai” jawab Bagas tersenyum manis kearah Chindai dengan posisi masih sama seperti tadi. Wajah mereka yang dekat membuat nafas mereka semakin terasa memburu. Detak jantung pun rasanya sudah tidak berdetak normal.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar