Senin, 02 November 2015

Cerbung "You're My Flashlight" (Bagas Chindai Idola Cilik 2013) #Part1

CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part1 (Percobaan)
Penulis : @OliviaaHaloho

----------------------------------
Buat kalian para wanita, pasti kalian akan sebal dan kesel apabila kalian sudah dekat sejak lama dengan seorang pria. Tapi, pria itu nggak peka-peka juga dengan kode-kode yang terus kita tunjukkan buat dia. Itulah yang gue hadapin sekarang ini. Nama gue Gloria Chindai, gue punya teman dekat, namanya Jordan Sebastian. Awalnya gue kenal dia karena dikenalkan oleh sahabat gue namanya Fattah. Dari Fattah lah gue kenal Jordan itu. Awalnya gue biasa aja di dekat Jordan lama kelamaan gue merasa nyaman,nyambung dan deg degan tiap kali gue di dekat dia.
Selama 3 tahun sudah gue dekat sama Jordan, dan selama 2 tahun terakhir ini pula gue mendam perasaan gue buat dia. Gue banyak ngasih kode buat dia kalau sebenarnya gue nyaman banget dekat dia, tapi apa balasannya? Dia nggak repect sama sekali sama kode-kode yang gue kasih ke dia.
Hari ini, hari terakhir gue berada di kota Bandung kelahiran gue sebelum gue melanjutkan kuliah gue di Jakarta. Gue nerima beasiswa dari Universitas tersebut dan akan meneruskan study sebagai mahasiswi di Universitas Indonesia. Sebenarnya gue bisa aja melanjutkan study ke Luar Negri tapi gue anak perempuan satu-satunya di keluarga gue dan paling susah jauh dari orangtua gue juga abang gue. Nama abang gue Gabriel Steven. Dan kemungkinan besar gue bakalan ninggalin semua sahabat-sahabat gue, seperti Marsha, Angel, Chelsea, Fattah, Josia dan Gilang. Terutama keluarga gue, dan termasuk juga gue bakalan ninggalin Jordan. Teman terdekat gue yang juga orang yang gue sayangin hingga sekarang.
Daripada gue terus pendam rasa ini dan membuat batin gue tersiksa, gue putuskan semua urat malu gue, harga diri gue sebagai seorang wanita di hadapan dia. Gue nggak mau kalau gue terus nyiksa batin gue, sudah cukup 2tahun gue memendam rasa ini. Gue samperin dia yang kebetulan berada di dalam kelasnya sedang memainkan handphone nya. Gue berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan perasaan ini buat dia.

“Jordan, gue mau bicara sama lo” kata pertama gue berhasil sukses keluar tanpa rasa gugup.

"Ehmmm" Dia hanya menjawab dengan berdehem.

“gue.. sebenarnya sayang dan cinta sama lo. Gue sudah mendam rasa ini sejak 2 tahun yang lalu. Gue capek rasanya mendam rasa ini terus menurus buat lo tapi lo nggak akan pernah peka sama kode-kode yang gue kasih ke lo. Gue nggak perlu jawaban lo, rasanya gue sudah lega ngungkapin ini semua ke lo. Maaf kalau gue terlalu frontal bilang gini sama lo dihadapan teman-teman” Chindai menghela nafas sejenak, air mata sudah menggenang sejak dari tadi menahan rasa sakit ini dan yang gue dapat apa? gue gak dapat jawaban apa-apa dari dia. Mungkin gue nya aja yang berharap lebih buat dekat dengan dia. Gue lari dari hadapan dia dan gue nggak sanggup menahan air mata ini agar nggak terus meluncur dikedua pipi gue. Gue nggak peduli sama semua tatapan yang tertuju kepada gue. Terserah lah! Teman-teman gue mau anggap gue sebagai cewe yang nggak punya malu dengan beraninya mengungkapkan perasaannya kepada seorang cowo. Sebodolah! Yang penting gue sudah lega walau gue nggak dapat jawaban apa-apa.

Gue pergi ke kantin sekolah nemuin teman-teman gue yang ternyata sedang nongkrong dikantin. Mereka kaget dengan keadaan gue, berlari kearah mereka dengan berlinangan air mata.

"Ndai, lo kenapa?" Tanya Angel

"Hikss.. Gue... Gue... Udah bilang ke dia tentang perasaan gue." Jelas Chindai sesenggukan

"Dia? Dia siapa?" Tanya Gilang

"Jordan maksud lo?" Sambung Fattah

Gue hanya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan dari teman-teman gue.

"Terus dia jawab apa?" Tanya Marsha yang sedari tadi diam

"Dia.. Ng.. Nggak jawab apa-apa. Dia cuek aja" jawab Chindai lirih

BRAAAKK!!!

Gue dan teman-teman gue sontak kaget dan langsung menatap siapa yang menggebrak meja itu. Fattah!

"Lo apaan sih, Tah!!" Sewot Gilang

"Gue nggak bisa liat sahabat gue nangis seperti ini gara-gara cowo itu" kata Fattah dengan emosi yang menggebu-gebu

"Tenang dong lo! Lo fikir dengan emosi semua bisa selesai dengan baik" timpal Marsha

"Gue nggak bisa biarin sahabat gue nangis gini" kata Fattah lagi dan beranjak dari tempat duduknya

Chindai sontak kaget, dan dengan cepat menahan lengan Fattah dan menggelengkan kepalanya.

"Jangan, Tah. Gue mohon. Biarin gue yang rasain ini semua. Lagian besok gue ke Jakarta, gue harap besok dia bakalan datang setidaknya menjawab pertanyaan gue tadi. Kalaupun sebaliknya gue bakalan lupain rasa ini buat dia selama gue di Jakarta" kata Chindai panjang lebar. Dia memang tak mau melihat sahabat dan orang yang dia cintai berkelahi karena dirinya. Cukup dirinyalah yang merasakan sakit ini.

"Tapi, Ndai. Gue...."

"Nggak, Tah. Biarin aja. Kalau lo tetap nyamperin dia, gue gak akan tegur sapa lo lagi selamanya" ancam Chindai serius dengan mata yang sembab.

"Okeoke... Gue turutin mau lo." Kata Fattah yang mulai tenang

'Sebenarnya gue nggak bisa liat lo gini, Ndai. Walau lo anggap gue sahabat terbaik lo, tapi hati ini akan tetap berpihak sama lo. Gue sakit liat lo nangis ini. Gue janji, gue bakalan buang rasa ini sampai gue yang liat lo bahagia dengan pilihan lo sendiri' batin Fattah yang memandang lekat wajah Chindai. Jujur! Dia mencintai sahabatnya ini.
----------------------
Dari pulang sekolah sampai malam pun tiba gue nggak ada keluar dari kamar, gue ngurung diri. Gue memikirkan apa yang gue lakukan tadi salah? Tapi kalau gue pendam terus gue akan nyiksa batin gue. Daritadi mama terus bolak balik ngetuk pintu kamar gue nuat makan tapi gue selalu bilang gue nggak nafsu makan tapi sebenarnya gue mau nenangin diri gue dulu. Gue yakin mama pasti akan kaget liat keadaan gue? Mata gue sembab karena terus-terusan menangis dan penampilan gue juga acak-acakan.

“Ndai.. keluar nak.. kamu kenapa dikamar terus?” Tanya mama dari luar

“gak apa-apa, ma. Chindai baik-baik aja.” Jawab Chindai dengan suara serak

“kamu ada masalah sayang? Cerita sama mama, siapa tau mama bisa kasih tau solusinya. Ayo sayang” pinta mama lagi dengan lembutnya.

Akhirnya gue mutusin beranjak dari tempat tidur, sedikit membenahi penampilan gue dan menghapus sisa air mata gue, tapi percuma air mata it uterus mengalir.

KREEEEKKK!!!

Gue membuka pintu kamar dan mama langsung kaget melihat mata sembab gue. Bisa gue tangkap dari mimic wajah mama kelihatan khawatir dengan gue.

“kamu kenapa sayang?” Tanya mama

“Chindai… Chindai tadi sudah ungkapin perasaan Chindai ke Jordan, Ma.” Ungkap Chindai jujur walau dengan nada sesenggukkan

Mama menghela nafas berat, mama memang tau gimana perasaan gue ke Jordan. Mama yang selalu jadi tempat curhat gue selama ini. Mama menarik pelan tangan gue menuju ruang keluarga. Sesaatnya gue sampai diruan keluarga bareng mama, mama menuntun kepala gue buat tiduran di atas paha nya.

“kamu sudah ngungkapin semuanya sama Jordan, sayang?” Tanya mama memastikan

“iya… ma” jawab Chindai lirih

“terus apa tanggapan Jordan?” Tanya mama lagi dan membelai pelan puncak kepala Chindai

“dia nggak ngasih jawaban apapun, Ma. Dia syok dan keget akibat Chindai ngungkapin perasaan Chindai ke dia, Ma.” Jawab Chindai sesegukkan dan air mata itu menetes lagi

Mama menghela nafas berat, “sayang.. cinta nggak harus memiliki, bukan? Lalu buat apa Chindai masih nangis gini? Yang penting Chindai sudah kasih tau ke dia kalau anak mama ini punya perasaan yang lebih buat dia. Walau dia nggak balas perasaan Chindai tapi dia sudah tau gimana perasaan Chindai buat dia? Suatu saat kalau dia memang jodoh sama kamu pasti kalian akan bertemu lagi dan bersatu” nasehat mama panjang lebar. Chindai meresapi semua tiap kata yang mama lontarkan tadi. Ada benarnya juga nasehat mama tadi, tapi kenapa gue nggak bisa terima akan perasaan gue yang nggak terbalaskan?

“yasudah, sekarang kamu cuci muka, sikat gigi baru tidur supa besok kamu bisa pergi ke Jakarta dengan wajah lebih fresh lagi. Ingat pesan mama kalau kalian jodoh pasti suatu saat kalian bertemu dan bersatu” pesan mama lagi. Kini gue mulai mengangukan kepala gue dan menerima semua kenyataan ini. Dan gue segera beranjak dari ruang keluarga menuju kamar.
--------------------
Keesokkan paginya….
Gue sudah siap dengan pakaian gue dan 2 koper berukuran sedang, semua teman-teman gue, keluarga gue sudah berkumpul dihalaman depan rumah. Gue memperhatikan mereka satu per satu dan mereka tersenyum kea rah gue, gue terus mencari keberadaan dia disekitar sini, namun hasilnya nihil! Dia nggak datang untu memberi gue ucapakan selamat tinggal. Apa sebegitu tidak pentingnya gue buat dia? Apa dengan cara menghindar gini dia membalas perasaan gue?

"Hai, Ndai" sapa teman-teman gue dengan senyuman mereka

"Hai guys" sapa Chindai balik dengan senyuman. Mungkin senyum palsu! Mata gue terus mencari-cari keberadaan dia di sekitar rumah gue, tapi gue nggak liat dia. Huh!!!

Berbincang dengan teman-teman menghabiskan waktu terakhir gue di Bandung, sebelum akhirnya gue pergi ke Jakarta buat melanjutkan study disana. Mungkin dengan ambil kuliah diluar kota Bandung, gue bisa melupakan dia dan mengubur dalam-dalam perasaan gue buat dia.

Setelah cukup lama berbincang-bincang waktu yang terus berputar akhirnya harus berlalu karena gue harus ke Jakarta pagi ini juga, karena masih banyak berkas yang harus gue urus untuk mendapatkan beasiswa itu.

Berpamitan sama teman-teman terutama keluarga gue. Sedih memang harus meninggalkan mereka tapi tidak apa-apa toh gue ke Jakarta bukan buat hura-hura tapi buat melanjutkan pendidikan gue dibangku kuliah.

Gue peluk mereka satu persatu, nasehat mereka hampir sama semua jaga kesehatan, jangan hura-hura di jakarta dan gue harus bisa mendapatkan IPK yang tinggi. Mereka cuman bisa bilang gue yang menjalankannya bisa-bisa puyeng hehehe

Fattah tersenyum kearah gue, gue balas senyuman dia. Gue tau itu senyuman buat nguatin gue. Dia juga tau kalau gue lagi nunggu Jordan. Tapi apa mau dikata Jordan tidak datang disaat terakhir gue.

"Maafin gue, Ndai. Gue nggak tau kalau ujungnya bakalan gini. Seharusnya gue nggak ngelanin lo sama Jordan, kalau lo harus merasakan sakit hati" kata Fattah tak enak hati

"Gak apa-apa, Tah. Ini bukan salah lo kok, gue nya aja yang salah harus memedam rasa buat dia. Tapi gap apa-apalah yang penting berkat dia, gue tau apa itu cinta yang sesungguhnya walau cinta gue nggak terbalaskan" jawab Chindai disertai senyuman manis. Walau sebenarnya hati gue masih sakit.

Mungkin dikota Jakarta nanti gue bisa melupakan tentang Jordan. Semuanya tentang Jordan! Semoga dengan tugas-tugas kuliah yang numpuk bisa nenangin pikiran gue tentang Jordan dan gue bisa dapatkan pria yang lebih ngerti perasaan gue dan gue bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari orang yang gue cinta.

Akhirnya, setelah berpamitan sama semuanya termasuk keluarga gue. Gue pergi meninggalkan mereka beberapa tahun, dan gue akan luangin waktu buat jenguk mereka disini ketika libur semester tiba.

-------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar