CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part2
Penulis : @OliviaaHaloho
----------------------------------
Fattah tersenyum kearah gue, gue balas senyuman dia. Gue tau itu senyuman buat nguatin gue. Dia juga tau kalau gue lagi nunggu Jordan. Tapi apa mau dikata Jordan tidak datang disaat terakhir gue.
"Maafin gue, Ndai. Gue nggak tau kalau ujungnya bakalan gini. Seharusnya gue nggak ngelanin lo sama Jordan, kalau lo harus merasakan sakit hati" kata Fattah tak enak hati
"Gak apa-apa, Tah. Ini bukan salah lo kok, gue nya aja yang salah harus memedam rasa buat dia. Tapi gap apa-apalah yang penting berkat dia, gue tau apa itu cinta yang sesungguhnya walau cinta gue nggak terbalaskan" jawab Chindai disertai senyuman manis. Walau sebenarnya hati gue masih sakit.
Mungkin dikota Jakarta nanti gue bisa melupakan tentang Jordan. Semuanya tentang Jordan! Semoga dengan tugas-tugas kuliah yang numpuk bisa nenangin pikiran gue tentang Jordan dan gue bisa dapatkan pria yang lebih ngerti perasaan gue dan gue bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari orang yang gue cinta.
Akhirnya, setelah berpamitan sama semuanya termasuk keluarga gue. Gue pergi meninggalkan mereka beberapa tahun, dan gue akan luangin waktu buat jenguk mereka disini ketika libur semester tiba.
-------------
Sesampainya Chindai di Jakarta. Chindai akan tinggal di rumah om nya. Ya, selama kuliah ini Chindai akan di asuh oleh om dan tante nya bernama om Gilbert dan tante Siska , juga dua keponakannya yang lucu-lucu bernama Oca dan Ivan.
“SELAMAT SIANG JAKARTA!!!!!!!!” jerit Chindai saat kedua kakinya sudah menginjakkan kota Jakarta. Nggak peduli deh semua mata tertuju pada Chindai.
Tujuan Chindai saat ini adalah mencari taxi dan ke rumah om nya. Kenapa jadi naik taxi sih? Karena om maupun tante nya tidak bisa menjemputnya karena ada urusan masing-masing yang sangat penting.
‘semoga di Jakarta ini gue bisa melupakan kisah cinta gue yang bertepuk sebalah tangan sama Jordan. Semoga di Jakarta gue bisa mendapatkan seorang pria yang benar-benar sayang dan cinta sama gue’ gumam Chindai sambil terus berjalan ke depan untuk menyetop taxi.
Lumayan lama perjalanan menuju rumah om dan tante akhirnya Chindai sampai juga dirumah om nya itu. Rumah yang mewah dan megah walau hanya ditinggali oleh om dan tante nya juga dua malaikat kecilnya.
‘Hmmm.. ngomong-ngomong gimana ya labar Oca dan Ivan? Setau gue dia masih kecil-kecil saat terakhir gue liat sejak kelas 1 SMA yang lalu. Apa mereka masih ingat sama gue ya’ gumam Chindai lagi saat membayangkan keponakannya itu
“tante siska… om Gilbert… Ivan… Oca…” panggilku dari depan rumahnya, tak menunggu lama terdengar suara hentakkan kaki yang sedang berlari menuju pintu utama.
CEKLEKK!!!
Pintu dibuka secara perlahan. Tapi tunggu? Siapa yang buka pintunya? Chindai liat ke arah bawah ternyata keponakan Chindai lah yang membuka pintu untuk dirinya.
“Kak Cindai!!!!” jerit mereka berdua yang langsung memelukku dengan sangat erat. Ya mereka adalah Ivan dan Oca. Ternyata mereka sudah besar-besar kemungkinan sudah menginjakkan dibangku SD.
“Oca… Ivan.. kalian masih ingat sama kak Chindai?” Tanya Chindai seraya berjongkok menyamakan tinggi mereka berdua
“Iya kak, ayo kita masuk ke dalam” jawab Ivan dengan nada yang menggemaskan
“ha…. Iya ayo…” jawab Chindai dan segera bangkit dari posisi yang tadi berjongkok sekarang berdiri tegap dan mulai mengikuti dua bocah kecil yang berjalan terlebih dahulu di depanku.
Setelah masuk ke dalam rumah Om dan Tante ku, rumah ini tidak jauh beda dari dulu. Barang-barangnya masih ditempatkan diposisi yang sama.
"Kak, kata mama sama papa kalau kak Chindai datang, kka langsung bobo aja dikamar" kata Oca
"Ah! Kka tidak capek kok. Kakak mau main-main sama kalian berdua. Boleh?" Tanya Chindai lembut.
"Boleh kak!!! Ayo kita main ditaman belakang" seru Ivan
______
Keesokkan paginya…
Suasana dirumah ini begitu heboh dan ramai sekali, sepertinya Ivan dan Oca sedang berusaha merebutkan sesuatu, entah itu apa? Niatnya pagi ini om Chindai ingin membawa Chindai menuju kampus barunya yang akan menjadi tempat selama dia menyelesaikan studynya di Jakarta.
Segera ku bergegas menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamar. Setelah mandi aku bersiap-siap memakai baju yang akan ku kenakan untuk melihat kampus baruku. Setelah sudah siap, Chindai segera keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
CEKLEK!!!!
BRUKKK!!!!
Pintu kamar Chindai dibuka secara perlahan dari dalam dan bertapa terkejutnya dirinya mendapatkan Ivan dan Oca yang terjatuh secara bersamaan. Entah apa yang mereka lakukan di depan kamar Chindai.
“Oca.. Ivan.. kenapa kalian bisa di depan kamar kak Chindai?” Tanya Chindai lembut
“mereka ingin bermain sama kamu, Ndai” jawab tante Siska yang berada di meja makan.
Chindai tertawa kecil mendengar penuturan dari tanteku. Segera Chindai menyamai tinggi keponakannya itu yang terjatuh saat Chindai membuka pintu.
"Maafin kak Chindai ya? Kka gak tau kalau kalian di depan pintu kamar kakak" kata Chindai lembut
"Iya kak, gak apa-apa." Jawab Oca polos
"Kak kita jalan-jalan yuk bareng sama ivan" ajak Ivan tiba-tiba
Chindai berfikir sejanak untuk menerima atau menolak tawaran Ivan. Tapi Chindai bukannya hari ini akan melihat kampus barunya? Tapi kalau ditolak ajakan Ivan pasti dia akan sedih dan marah sama Chindai?
"Kak Chindai nya mau liat kampus barunya, Van. Jadi kak Chindai gak bisa jalan-jalan bareng Ivan maupun Oca" kata om Gilbert yang tiba-tiba datang.
Huft!! Akhirnya Chindai gak perlu kasih alasan yang lain dan membuat mereka berdua marah sama Chindai.
"Yang benar kak?" Tanya Oca dengan raut wajah masam
"Iya, kakak mau liat tempat kampus kakak yang baru. Kapan-kapan deh kita jalan-jalan, gimana?" Jawab dan tanya Chindai lembut
Nampaknya Oca dan Ivan saling berfikir satu sama lain dan tak lama kemudian mereka berdua saling pandang dan melihat kearah Chindai disertai anggukkan kepala dari keduanya.
------------
Setelah selesai sarapan pagi, Chindai dan om nya segera berjalan menuju mobil om Gilbert yang sudah terparkir di halaman depan. Mungkin akan seperti ini, Om Gilbert akan susah keluar rumah karena Oca dan Ivan tak mau jauh dari papa nya.
"Om berharap kamu bisa menyesuaikan diri selama di Jakarta" kata om Gilbert memulai percakapan
"Tenang om, walaupun Chindai masih baru, Chindai yakin akan cepat berbaur sama suasana di Jakarta" jawab Chindai dengan PD. Om Gilbert hanya terkekeh kecil mendengar jawabanku.
"Setidaknya kamu bisa melupakan cowo yang bernama Jordan itu. Dan akan cepat mendapat pengganti dia." Kata om Gilbert lagi yang mampu membuatku membisu sesaat.
"Darimana om tau tentang dia?" Tanya Chindai dengan tampang watados
"Sudah tidak menjadi rahasia lagi kan dikeluarga besar kita? Masalah sekecil apapun pasti akan cepat berhembus?" Jawab om Gilbert dengan tenang.
Chindai tak menjawab pertanyaan om nya itu, entah apa yang akan di jawabnya. Sebenarnya Chindai sudah malas membahas tentang Jordan itu. Tapi mengapa om nya kini membahas dia lagi?
Sepanjang perjalanan tak ada lagi percakapan setelah om Gilbert menanyakan tentang Jordan. Mood Chindai langsung berubah.
Tak lama kemudian Chindai dan Om Gilbert sampai di kampus Chindai yaitu Universitas Indonesia. Universitas yang banyak calon mahasiswa ingin masuk ke kampus ini. Bersyukurnya Chindai bisa menjadi salah satu mahasiswi di sini. Chindai memilih jurusan Ilmu Komunikasi. Jurusan yang dia idam-idamkan selama ini.
Chindai dan Om Gilbert menyusuri Universitas Indonesia, namun om Gilbert hanya menemanin Chindai sampai depan saja tidak masuk ke dalam Universitas Indonesia.
"Nah sebaiknya kamu sendirian yang melihat-lihat kampus ini. Mungkin hari ini memang sepi karena masih dalam masa liburan semester dan minggu depan sudah memulai aktifitas seperti OSPEK" jelas Om Gilbert. "Yasudah om tunggu dimobil, kamu silahkan melihat-lihat keadaan kampus" lanjut om Gilbert. Chindai hanya menganggukan kepala saja.
Chindai berjalan menyusuri setiap lorong-lorong kampus melihat-lihat ruangan-ruangan yang ada dikampus ini. Mengingat setiap sudut ruangan tersebut.
--------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar