CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part5
Penulis : @OliviaaHaloho
-----------------------------
"Tapi...."
"Tenang aja, gue nggak jahat sama lo kok. Bubur ini juga nggak ada racunnya" jelas orang itu seperti tau pemikiran Chindai
Karena sudah tidak ada tenaga lagi, Chindai hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dan menerima suapa demi suapan bubur yang dikasih sama orang itu hingga habis.
"Nah udah habis. Minum dulu deh, baru gue antar pulang" kata cowo itu tersenyum memperhatikan gadis dihadapannya ini
"Ohya, lo masih ingat sama gue?" Tanya pria ini dengan lembut
"Hmmm" Chindai nampak berfikir dan memperhatikan wajah orang di depannya itu
----------
“Hmmmm… lo…. Bagas, kan?” tanya Chindai memastikan
“tepat!!” Bagas menjentikkan jarinya tepat di hadapan Chindai. Chindai menepisnya dengan pelan
“hmm.. Bagas..” panggil Chindai pelan
“mmm… ya kenapa, Ndai?” jawab dan tanya Bagas
“gue… gue mau balik. Pasti deh om dan tante gue nyariin gue.”
“oke.. oke.. gue bakalan anterin lo balik”
Terlihat Chindai bangkit dari posisi duduknya yang bersadar pada punggung temoat tidur Bagas. Namun saat hendak melangkah Chindai kembali kehilangan keseimbangannya dan berhasil jatuh di dalam pelukannya Bagas. Mata mereka bertemu di satu titik, senyum menggembang di bibir Bagas.
“makanya lo jangan sok kuat, masih lemas gini kok” goda Bagas yang sukses membuat Chindai mengerucutkan bibirnya karena merasa dongkol dengan godaan Bagas yang tidak lucu sama sekali
“apaan sih lo, gue bisa jalan sendiri kok” kekeuh Chindai dan berdiri dari dekapan Bagas dan melangkahkan kakinya pelan namun na’as sakit di kepalanya semakin berdenyut hebat dan membuat Chindai kehilangan keseimabangannya lagi. Lagi dan lagi Chindai jatuh dalam pelukkan Bagas.
“lo ngeyel banget sih gue bilangin dan jangan sok kuat deh” omel Bagas dan langsung membopong tubuh Chindai menuju mobilnya dan mengatrkan Chindai menuju rumah om dan tantenya.
------------------------
Sesampainya di depan rumah Om Gilbert, Bagas segera turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju pintu penumpang karena di dalam perjalanan tadi Chindai memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya dan membuat Chindai kembali lemas dan perutnya kosong kembali.
“ayo gue bantu lo masuk ke dalam rumah. Nanti biar gue yang jelasin semuanya sama om dan tante lo” kata Bagas panik. Chindai hanya meggelengkan kepalanya saja karena badannya benar-benar lemas pada saat ini.
“eng… ga… u.. sah.. gu.. e… bi..sa sen..diri’ kata Chindai terbata-bata
“ah! Lu sudah pucat gini, mau jalan sendiri yang ada lo jatuh. Gue gendong lo aja” kata Bagas dan Chindai hanya pasrah saat sudah di dalam gendongan Bagas (lagi).
TING NONG!!!
Bagas berusaha memencet bel yang ada di sebelah pintu rumah. Kesulitan memeang dengan kondisi yang masih membopong tubuh Chindai yang lemas, sepertinya Chindai kembali jatuh pingsan.
Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki dari dalam rumah. Dengan perasaan ketar-ketir, gugup dan perasaan tak enak menyelimuti Bagas pada sore hari itu. Karena membawa salah seorang penghuni rumah ini dengan keadaan pingsan lagi.
CEKLEKK!!!!
Pintu terbuka lebar. Terlihat wanita seumuran ibunya membuka pintu dan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan. Perasaan Bagas makin menjadi-jadi takut disalhkan karena dirinyalah yang membuat Chindai dalam keadaan tak sadar diri.
“cari siap….” Ucapan wanita paruh baya itu terputus saat melihat kondisi keponakannya salam keadaan pingsan, “astaga, Chindai!!!! Kamu kenapa sayang?” jerit wanita itu dan wajahnya terlihat kepanikan
“keponakkan saya kenapa? Kepa bisa pingsan?” tanya wanita itu kepada Bagas
“hmmm.. anu… tan… tadi Chindai pingsan di taman kampus kebetulan saya lewat jadi saya sempat membawa ke rumah saya dulu karena tidak tau alamat rumah Chindai” jelas Bagas jujur dan menghilangkan rasa kegugupannya karena takut terkena marah
“yasudah cepat bawa masuk Chindainya kedalam kamarnya” suruh wanita itu yang ternyata tante Chindai.
Saat tengah membopong Chindai ke kamarnya, datang dari arah yang berlawanan muncul pria paruh baya sepertinya Om Chindai.
“mah, kenapa Chindai pucat gitu wajahnya?” tanya pria paruh baya itu yang ternyata om Chindai
“katanya teman Chindai itu, tadi Chindai pingsan di taman kampus dan teman Chindai karena nggak tau mau membawa kemana jadi terpaksa dibawa kerumahnya dulu.” Jelas tante Siska.
Setelah mengantarkan Chindai ke kamarnya, Tante Siska meletakkan punggung tangannya ke dahi Chindai. Dan benar saja suhu badan Chindai panas sekali. Bagas juga sudah menceritakan semuanya kepada om dan tante Chindai bagaimana kronologi ceritanya Chindai bisa sampai ada ditangan Bagas.
"Kak Chindai" panggil Oca saat sampai dirumah dan berlari menuju kamar Chindai
"Ssssttt.. Oca sayang diem ya, kak Chindainya lagi sakit. Jadi, Oca nggak boleh berisik. Oke" nasehat om Gilbert. Oca hanya mengangguk patuh dengan ucapan sang papa
"Tapi papa, Oca mau liat kak Chindai sebentar aja ya" pinta Oca. Om Gilbert tampak berfikir sejenak
"Hmmm.. Baiklah" akhirnya om Gilbert mengizinkan Oca ke kamar Chindai
------------------------------
Keesokkan harinya...
Keadaan Chindai benar-benar droup saat malam tiba. Dengan terpaksa Chindai dilarikan ke rumah sakit. Walau awalnya ada penolakan dari Chindai. Tapi om dan tante Chindai tetap bersikeras membawa Chindai ke rumah sakit.
Perlahan kedua kelopak mata Chindai terbuka. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengarahkan tujuan pandangan ke setiap sisinya. Berwarna putih. Sudah jelas ini pasti rumah sakit.
"Kamu sudah siuman, Ndai?" tanya om Gilbert
"Iya om" jawab Chindai lemah, "om jangan kasih tau keluarga Chindai ya." Pinta Chindai tiba-tiba dan menggenggam tangan om Gilbert
"Tapi, keluarga disana harus tau, Ndai. Apalagi abang Gabriel dia pasti sangat cemas dengan kondisi adiknya yang seperti ini"
"Nggak om, Chindai nggak mau buat orang rumah disana cemas. Chindai baik-baik aja kok, Om. Ya om.. Please" mohon Chindai dengan memasang mimik wajah semelas mungkin
"Baiklah, om akan turutin permintaan keponakkan om yang satu ini" gemas om Gilbert sambil memencet hidung Chindai. Chindai hanya mendengus kesal ke arah om nya yang suka sekali memencet hidungnya
Setelah mengabulkan permintaan Chindai tadi, Om Gilbert berpesan kepada Chindai bahwa nanti tante Siska, Oca dan Ivan akan berkunjung menjenguk Chindai nanti sore.
Tapi tak lama kemudian.................
TOK!!! TOK!!! TOK!!!
Suara ketukan pintu ruang rawat Chindai terdengar ada yang mengetuk dari luar pintu. Chindai menyerngitkan dahinya. Siapa yang berkunjung di siang bolong seperti ini? Apa masih bisa masuk ke rumah sakit? Bukannya jam besuk sudah selesai jam 12 siang tadi?
"Ya, masuk aja" kata Chindai dari atas tempat tidur
Apakah tante dan juga 2 anaknya akan bertamu ke sini? Tapi kata om Gilbert mereka akan datang pada sore hari?
CEKLEKKK !!!!
Suara decitan pintu rumah sakit lebih tepatnya kamar rawat Chindai terbuka secara perlahan.
Dan......
Betapa terkejutnya Chindai melihat siapa yang datang menjenguknya di siang bolong seperti ini.
"Hai, Chindai" sapanya dan berjalan mendekat kearah tempat tidur Chindai dengan tangan yang membawa sebuket bunga dan juga kotak coklat berbentuk love
What? Chindai lagi sakit, coy!!! Masa dikasih coklat? Sakit ini orang!!! Errrrrrrr
"Darimana lo tau kalau gue masuk rumah sakit?" Tanya Chindai
"Tadi gue memang mau liat kondisi lo dirumah om dan juga tante lo tapi saat gue berpapasan dengan tante lo yang mau pergi kerja dan katanya lo masuk rumah sakit sini. Ya udah gue minta nomor kamar lo" jelasnya dengan santai dan duduk ditepi tempat tidur Chindai. Siapa lagi kalau bukan Bagas
"Terus kenapa lo bisa masuk ke ruangan gue? Bukannya jam besuk sudah kelar ya?" Tanya Chindai lagi, karena Chindai sangat penasaran. Kok bisa Bagas masuk ke ruang Chindai? Sedangkan jam besuk sudah kelar?
"Kebetulan om gue dokter yang memeriksa lo. Jadi ya, gue minta tolong sama om gue deh" jelas Bagas lagi
"Ohh" Chindai hanya membulatkan mulutnya saja. Bagas terkekeh melihat tingkah menggemaskan Chindai
"Ohya, ini buat lo" kata Bagas memecahkan keheningan yang terjadi beberapa saat tadi dan Bagas menyerahkan sebuket bunga dan coklat berbentuk hati.
"Buat gue?" tanya Chindai lagi karena belum yakin
"Ia buat lo nona cantik" goda Bagas dan berhasil membuat pipi Chindai merah merona
"Thanks, Gas" kata Chindai dan menerima pemberian Bagas itu
"Iyaa, sama-sama nona cantik"
"Ih! Apaan sih lo, Gas. Manggil gue nona cantik mulu" omel dan tanya Chindai
"Yaa, karena lo memang nona cantik buat gue"
"Apaan sih lo, Gas" kata Chindai malu-malu. Bagas hanya terkekeh melihat Chindai dan menyingkirkan helaian rambut Chindai yang menutupi wajah cantik Chindai
----------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar