CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part7
Penulis : @OliviaaHaloho
------------------------------------
Aduh maaf banget ya, ngaretnya kelamaan ya? Maaf banget yaa semua...
Semoga part selanjutnya gak bakalan ngaret lagi ya, semangat nulis saya mulai redup huhuhu...
Kalau bias kritik dan saran buat part berikutnya ya :D
----------------------------------
“eh, lo. Ngapaian, Gas?” tanya Chindai. Bukannya menjawab Bagas tersenyum misterius dan langsung memalingkah wajahnya menghadap Ivan dan Oca kemudia kepala Bagas mengangguk kepada Oca dan Ivan
“kata kak Bagas mau ajak kita jalan-jalan, Kak” jawab Ivan semangat
“Jalan-jalan?” ualang Chindai tak percaya
“iya, Ndai. Lo mau kan ikut?” jawab dan tanya Bagas
Chindai terdiam sejenak memikirkan jawaban Bagas. Apa dirinya akan menerima ajakan Bagas atau tidak? Apalagi sekarang dirumah hanya ada Chindai, Oca, Ivan dan dua pembantu dirumah Om Gilbert?
“ah! Kak Chindai lama.. kak Chindai pasti mau kak.” Celetuk Oca sekenanya dan membuat Bagas tersenyum puas
“eh! Eh!” kaget Chindai dengan celetukannya Oca, segera Bagas berjalan menghampiri Chindai dan berbisik tepat di telinga Chindai.
“ayolah, Ndai. Daripada dirumah suntuk kan?” bisik Bagas tepat ditelinga Chindai
“tapi kan, Gas….” Ucap Chindai terhenti saat menatap kearah Bagas, jarak antara Bagas dan Chindai tinggal beberapa senti saja.
“wow!!! Tutup mata Oca” bisik Ivan kepada adiknya itu. Oca hanya manggut-manggut aja menuruti apa akata Ivan
“mau ya” pinta Bagas memohon dan menatap kedua mata Chindai tepat dimanik matanya, dan sekujur badan Chindai terasa menegang dengan tatapan teduh dari Bagas, darah berdesir hebat ditubuh Chindai.
------------------------------------------
“hmmm.. ya udah deh, demi keponakkan gue. Tapi, gue izin dulu sama bokap dan nyokap mereka” jawab Chindai pada akhirnya dan mendorong pelan wajah Bagas yang sempat dekat wajahnya
“okelah, gampang itu. Nggak di marahin kok. Pasti!” kata Bagas PD
“sok tau lo. Ayo adik-adik kakak ganti baju sana. Kakak mau telpon mama dan papa kalian dulu” cetus Chindai dan berarih kepada kedua keponakkan mereka yang menutup wajahnya dengan tangan mereka, “lah? Ivan sama Oca kenapa? Kok wajahnya di tutup gitu?” tanya Chindai heran
“kami nggak ngintip kok kak, beneran.. iyakan Oca?” sahut dan tanya Ivan kepada Oca masih dengan tangan mereka yang terangat menutup wajah keduanya
“mmmm.. nggak ngintip kok kak” jawab Oca sambil mengangguk-anggukan kepalanya
Sontak membuat Bagas dan Chindai saling adu pandang. Antara bingung dan heran dengan tingkah laku Ivan dan Oca.
“hei, kalian kenapa? Ngintip apa sih? Coba turunkan tangannya jelasin sama kak Bagas” tanya Bagas lembut dan berjalan mendekati Oca dan Ivan. Mereka pun menurut perintah dari Bagas.
“coba jelasin maksud kalian tentang ngintip tadi?” ulang Bagas kedua kalinya
Namun Oca dan Ivan hanya menggelengkan kepalanya dan saling sikut menyikut memberi kode bahwa yang terkena sikut itu yang menjelaskan. Namun keduanya tetap tidak mau membuka suara sampai akhirnya Chindai angkat bicara.
“yasudah, kalau Ivan dan Oca nggak mau jelasin ke kak Chindai dan kak Bagas acara jalan-jalannya batal aja ah, bilang ke mama papa Ivan dan Oca aja kalau jalan-jalannya nggak jadi” ancam Chindai dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin
“JANGAAAANN!!!” jerit mereka berdua. Chindai cuman menahan tawanya padahal Chindai hanya mengancam saja. Memang jahil punya kakak seperti dia.
“makanya jelasin ke kak Bagas sama kak Chindai” pinta Bagas kesekian kalinya dan akhirnya Oca dan Ivan mengiyakannya dengan perasaan ketar-ketir
“mmm… tadikan kak Bagas sama kak Chindai kan mau ciuman” celetuk Oca dengan polosnya dan membuat Bagas maupun Chindai membulatkan matanya sempurna karena kaget dengan penuturan Oca dan Ivan barusan
“jadi menurut kalian tadi kak Bagas nyium kak Chindai?” tanya Bagas untuk memastikan lagi
“hmmm” dehem mereka berdua sambil menganggukan kepalanya
“hahaha.. kalian ini, tadi kakak bukannya mau nyium kak Chindai. Tapi, kak Bagas lagi bisikin kak Chindai” jelas Bagas dengan santai menghilangkan rasa gugupnya, sebaliknya Chindai juga memalingkan wajahnya yang sudah merah merona
"Ohh" jawab Oca dan Ivan
"Yasudah kita ganti baju dulu yuk" ajak Chindai kepada kedua keponakannya dan hanya di jawab dengan anggukkan
-------------------------------
Bagas, Chindai, Oca dan Ivan kini mereka sudah sampai disebuah danau yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Danau Setu Babakan. Keramaian disekitar danau ini akan lebih terlihat jelas ketika sedang memauki liburan. Di danau ini kita akan menemui Kampung Betawi Setu Babakan dengan panorama yang indah. Di danau ini banyak kegiatan yang bisa kita lakukan seperti naik perahu bebek untuk berkeliling danau, atau sekedar duduk santai bersama teman,sahabat,pacar maupun keluarga.
Setelah melakukan aktifitas disekitar danau kalian bisa menjumpai warung makan atau kedai jajanan yang bisa kamu kunjungi dan banyak juga makanan khas betawi. Contohnya saja kerak telor.
“wahhhhhh Danau Setu Bababkan”girang Oca dan Ivan saat sudah sampai di tempat tujuan mereka
“Oca, Ivan!!! Jangan teriak-teriak malu tau diliatin sama orang lain” tegur Chindai kepada dua keponakkannya ini. Oca dan Ivan hanya cengengesan saat ditegur oleh Chndai
“kak Bagas, kita naik perahu bebek yuk” ajak Oca
“ayo” jawab Bagas lalu menggendong Oca dan berjalan menuju tempat penyewaan perahu bebek disekitar danau
Canda dan tawa menggembang dibibir mungil Oca dan Ivan sore hari ini. Bagas tak henti-hentinya melontarkan sebuah lelucon yang membuat dua anak kecil ini tertawa lepas. Chindai sesekali tersenyum dan ikut terkekeh kecil mendengar lelucon Bagas. Hingga akhirnya, semua permaianan di danau ini sudah mereka rasakan, rasa lelah pun menghampiri mereka semua.
“kak Chindai, Oca capek” keluh Oca yang memang wajahnya terlihat letih, mungkin efek kecapean
“yasudah kita istirahat dulu ya. Baju Oca juga udah basah sama keringat, kita ganti baju dulu baru makan sebentar ya.” Kata Chindai mengiyakan permintaan keponakkannya ini dan Oca hanya menganggukan kepalanya saja mungkin efek kecapean
“Gas, gue ke mobil dulu ya. Mau gantiin baju Oca nih” panggil Chindai kepada Bagas yang masih asyik bermain.
“iya” jawab Bagas lalu kembali mengejar Ivan yang berlarian dipinggir danau. Chindai hanya menggelengkan kepalanya melihat kedekatan Ivan dan Bagas dan mulai berjalan meninggalkan Bagas dan Ivan.
HAP!!!!
“dapetkan kamu, Van.” Kata Bagas saat sudah berhasil mendapatkan Ivan yang sedari tadi bermain lari-larian dan Ivan hanya terkekeh saat Bagas memelik tubuhnya
“kak Bagas lama tangkep Ivannya.. huuuu” jawab Ivan dengan nafas yang tersenggal-senggal
“kamu sih cepet banget larinya.” Keluh Bagas dan melepaskan pelukan dari tubuh Ivan
“huuu kak Bagas cemen” ledek Ivan sambil meleletkan lidahnya. Merasa geram dengan tingkah Ivan, Bagas menarik pelan lengan mungil Ivan dan Ivan terjatuh di pangkuan Bagas yang duduk di rerumputan sekitar danau dan mulai menggelitiki Ivan.
“hahaha.. ampun kak, ampun” pinta Ivan ditengah aksi jail Bagas
“enggak ah! Nanti Ivan ledek-ledek kak Bagas lagi” jawab Bagas dan mulai menggelitiki Ivan lagi
“bener deh kak, ampun” kata Ivan lagi yang suaranya semakin lirih mungkin terlalu banyak ketawa dengan Bagas
Akhirnya, setelah menggelitik Ivan untuk berhenti meledek dirinya di akhiri Bagas. Karena, melihat wajah lelah Ivan jadi tak tega untuk meneruskan aksinya lagi.
"Yasudah kalau gitu, kita ganti baju dulu. Baju Ivan basah gitu kena keringat." Ujar Bagas
"Gak mau, kak. Ivan mau makan dulu" tolak Ivan dengan gelenggan kepalanya
"Ia, kita ganti baju dulu temuin kak Chindai sama Oca terus kita cari makan ya" ujar Bagas sabar untuk memberi pengertian buat Ivan agar mengerti
"Ia deh iya kak" jawab Ivan lesu karena memang tidak setuju dengan ajakan Bagas tapi mau gimana lagi.
---------------
Setelah selesai mengganti baju Oca dan Ivan, kini Bagas dan Chindai beserta Oca dan Ivan tiba disebuah restoran yang lumayan mewah. Ivan dan Oca taak henti-hentinya berceloteh ria, entahlah apa yang mereka bicarakan yang penting terpancar keceriaan diwajah keduanya.
Bagas duduk disebelah kiri Chindai, sedangkan Oca duduk di hadapan Bagas dan Ivan duduk di hadapan Chindai. Bagas lagi menuliskan pesanan yang sudah di pilih mereka dari daftar menu. Kini Bagas memanggil sang pelayan agar mengambil sercarcik kertas yang sudah berisi pesanan mereka.
“pelayan” panggil Bagas saat sudah duduk dan sudah menuliskan pesanan pada secarcik keratas yang sudah dikasih oleh pelayan. Mereka memilih ruangan terbuka yang langsung tertuju pada Danau yang mereka jalanin tadi, “ini” lanjut Bagas sambil menyodorkan sercarcik kertas yang berisi pesanan mereka.
“baik, silahkan ditunggu” jawab pelayan dengan sopan dan hanya dibalas dengan senyuman kecil lalu sang pelayan berlalu meninggalkan meja Bagas.
Kini senyuman termanis yang terpancar dikedua sudut bibir Bagas melihat keceriaan Chindai, Oca dan Ivan. Kesendiriannya di kota Ibukota ini membuat semangatnya turun, tapi dalam hal pelajaran Bagas tak pernah luntur. Kesibukkan kedua orangtuanya di Sumatera membuat Bagas jenuh apalagi dia anak tunggal dari seorang pengusaha kaya raya. Kebahagiaan itu muncul lagi disaat Bagas mulai mengenal Chindai, Ivan dan Oca.
‘entah sudah berapa lama gue nggak sebahagia ini. Mereka bertiga membuat kebahagiaan gue kembali lagi. Seolah melihat wajah mereka bertiga membuat hati gue nyaman’ batin Bagas tersenyum kecil melihat mereka
Chindai yang merasa diperhatikan oleh Bagas kini menoleh kearah Bagas dan benar saja Bagas tak berkutik saat dirinya memanggil nama Bagas.
“Gas” panggil Chindai
Tetap diam tak bergeming.
“Bagas” panggil Chindai menaikkan satu oktaf suaranya.
Namun, Bagas masih diam tak bergeming.
“Bagaaaassssssssssss!!!!” jerit Chindai tertahan karena memang Chindai menyadari dirinya bukan di rumah atau di halaman rumah. Hingga membuat Oca dan Ivan ikut menoleh kearah Chindai dan Bagas secara bergantian.
“haaa.. apa?” jawab Bagas terlonjak kaget
“ish! Lo itu ya, daritaddi gue panggil-panggil lo tapi lo nggak merespon panggilan gue” kata Chindai kesal
“ah? Lo manggil gue? Kapan?” Tanya Bagas seperti orang linglung
“enggak jadi” jawab Chindai ketus
“ih! Lo kenapa sih? Kok ketus gitu bicaranya ke gue?” Tanya Bagas lagi dengan tampang polos
“lo itu buat gue kesel tau nggak, daritadi gue manggil-manggil lo tapi lo nggak merespon juga. Bete tau nggak” jawab Chindai semakin judes
“iya deh, iya.. maaf deh.. emang lo manggil gue kenapa?” Tanya Bagas begitu lembut. Chindai hanya memandang sinis Bagas dan mengembuskan nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Bagas.
“kenapa lo dari diem terus memperhatikan gue, Oca dan Ivan?” Tanya Chindai
"Hmm.. Emang gue perhatikan kalian?" Goda Bagas menaik turunkan alisnya
"Ish lo bener-bener ya" dengus Chindai kesal
Tak lama kemudian pesanan Bagas, Chindai serta Oca dan Ivan datang. Bagas dan Chindai terheran-heran melihat 4 buah mangkuk berukuran sedang diatas meja mereka.
"Hmm.. Mba, ini kenapa ada 4 buah mangkuk es cream ya? Kita kan enggak ada pesan?" Tanya Bagas dengan wajah yang kebingungan
"Ohya, gini loh mas.. Karena restoran kami sedang merayakan hari anniversary yang ke 7 tahun berdirinya, makanya ini bonus buat keluarga kecil kalian" jawab sang pelayan
Sontak Chindai melotot sempurna, karena kaget dengan penuturan sang pelayan tadi.
"Ooh iya-iya, makasih ya mba. Makasih juga es creamnya buat keluarga kami" jelas Bagas santai dan sang pelayan hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari meja restoran Bagas.
Kali ini Chindai lagi-lagi membulatkan matanya dengan sempurna karena mendengar penuturan Bagas tadi.
"Heh, Gas! Lo apa-apaan sih? Kok lo bilang kita-kita keluarga kecil lo sih?" Tanya Chindai sewot
"Ssssstt.. Diem aja deh, makan aja." Jawab Bagas santai
"Ish lo! Rese tau nggak" jawab Chindai lagi lalu memalingkan wajahnya
"Karena gue memang ingin lo jadi ibu dari anak-anak gue nanti. Gue suka dan gue cinta sama lo" bisik Bagas tepat di telinga kiri Chindai. Dan berhasil membuat Chindai menoleh cepat kearah Bagas.
CUP!!!
Satu kecupan mendarat di kening Chindai. Oca dan Ivan yang melihatnya hanya menggedipkan matanya melihat Bagas mencium Chindai dihadapan mereka.
-----------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar