Senin, 02 November 2015

Cerbung "You're My Flashlight" (Bagas Chindai Idola Cilik 2013) #Part6

CERBUNG “YOU’RE MY FLASHLIGHT” (Bagas Chindai Idola Cilik) #Part6
Penulis : @OliviaaHaloho

-------------------------------

"Thanks, Gas" kata Chindai dan menerima pemberian Bagas itu

"Iyaa, sama-sama nona cantik"

"Ih! Apaan sih lo, Gas. Manggil gue nona cantik mulu" omel dan tanya Chindai

"Yaa, karena lo memang nona cantik buat gue"

"Apaan sih lo, Gas" kata Chindai malu-malu. Bagas hanya terkekeh melihat Chindai dan menyingkirkan helaian rambut Chindai yang menutupi wajah cantik Chindai

----------------------------

Hening.

Setelah godaan dari Bagas tadi hingga sekarang tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut mereka. Saling pandang dan lempar senyumlah yang ada saat ini didalam ruangan rumah sakit Chindai.

"Hmmm... Gas?" panggil Chindai yang akhirnya memecahkan keheningan yang tercipta tadi

"Mmmm... Ya, kenapa Ndai?" tanya Bagas

"Temanin gue ke taman rumah sakit, mau nggak? Gue bosen diem diatas tempat tidur gini" kata Chindai tiba-tiba

"Bukannya lo harus istirahat? Kan lo belum sehat, Ndai"

"Tapi gue bosen, Gas. Ayolah bentar aja atau memang lo nya lagi yang males nemanin gue ketaman ya?" tanya Chindai skaratis

"Eh! Bukan gitu maksud gue.. Tapi..." ucap Bagas terhenti saat Chindai langsung memotong ucapan Bagas

"Oke.. Oke.. Gue tau kok lo memang nggak mau ngajak gue ke taman. Gue bisa sendiri kok, Gas" potong Chindai cepat dengan mimik wajah yang sulit diartikan

"Oke, gue anterin lo ke taman tapi gue izin dulu sama susternya dan gue ambil kursi roda buat lo" kata Bagas cepat sebelum Chindai benar-benar ke taman sendirian dengan keadaan tubuh yang belum fit sepenuhnya. Chindai tersenyum dan menganggukan kepalanya

------------

Sesampainya di taman rumah sakit, Chindai tersenyum dan tekekeh kecil melihat anak-anak kecil yang berlari-larian karena berebut mainan. Ada anak yang menangis karena anak yang satunya tidak meu meminjamkan mainannya.

"Hei adik kecil, kenapa menangis?" tanya Chindai lembut

"Itu kakak mainan Anna diambil sama Citla" adu anak kecil yang bernama Ana itu dengan suara cadelnya. Sedangkan yang bernama Citra bersidekap tangan di depan dadanya karena tak suka kalau Anna mengadu seperti ini

"Ndak kak! Anna boong. Citla ndak ada ambil main Anna. Ini puna Citla, kak" jawab anak satunya bernama Citra

"Gini loh adik-adik, kalian mau kan dibilang anak pintar dan cantik?" tanya Chindai lagi. Citra dan Anna hanya menganggukan kepalanya

"Nah kalau mau jadi anak pintar yang pintar juga cantik, dilarang loh rebut-rebutan mainan gini. Jelek tau kalau marah-marahan seperti ini" lanjut Chindai mencoba memberi pengertian kepada kedua anak kecil ini

Anna maupun Citra terlihat hanya diam saja setelah Chindai memberikan nasehat. Apa mereka tidak mengerti apa yang di bicarakan Chindai?

Astaga!!!

"Kalian mengerti kan apa yang kakak bilang tadi?" tanya Chindai

"Nelti kak" jawab mereka berdua dengan senyuman

"Tapi, Citla ndak mau kasih pinjam mainnya kak" adu Anna lagi

"Ndak! Anna boong!" Jerit Citra

"Ndak! Citla jaat malah-malahin Anna.. Huhuhu" jawab Anna dengan suara sesenggukan.

Bagas yang sedari tadi diam, kini mulai membuka suaranya dan mencoba memberi pengertian buat kedua anak kecil ini.

"Sudah dong Anna.. Kalau Anna mau jadi anak yang baik dan cantik, Anna harus bisa mengalah ya. Mengalah itu disayang sama Tuhan loh. Nanti masuk surga" kata Bagas tersenyum. Anna memperthatikan wajah Bagas dengan linangan air mata yang masih saja mengalir, "Anna mau kan masuk surga? Surga itu indah loh.. Yang tinggal di surga itu hanya anak yang mau mengalah sama temannya dan juga baik sama temannya" lanjut Bagas dan melirik Chindai dengan senyuman khasnya

"Anna, mau macuk sulga kak. Kalau gitu main itu buat Citla aja, Anna kan anak baik" kata Anna gembira

"Aku juda kak, mau macuk sulga" timpal Citra

"Ndak boyeh! Anna yang macuk sulga! Citla macuk nelaka aja!"

"Ndak mau! Citla mau macuk sulga"

"Ndak!"

"Boyeh!"

"Ndak!"

"Boyeh!"

Teriakan-terikan khas anak kecil ini masih saja terjadi hingga Chindai dan Bagas dengan cepat membekap pelan mulut anak-anak kecil ini dan melepaskannya.

"Emmmpphhhh" kata Citra dan Anna sambil memukul pelan tangan yang menutup mulut mereka. Kemudian Bagas dan Chindai melepaskan tangan mereka

"Sttttt.. Kalian berdua boleh kok masuk surga sama-sama tapi kalian harus jadi anak yang baik,pintar dan jangan pernah berantem lagi. Oke" jelas Chindai sambil mengacungkan ibu jari

"Oteeee kakak" jawab Anna dan Citra dan memeluk Chindai, tak sungkan Chindai pun membalas pelukan mereka. Bagas yang melihatnya hanya tersenyum

----------------
Seminggu sudah Chindai di rawat dirumah sakit, seminggu juga Bagas bolak-balik menjenguk Chindai. Sebenarnya sih Chindai bingung juga kenapa si Bagas seminggu belakangan ini sering mampir untuk menjenguk Chindai. Apa dia tidak bosan?

"Bagas..." panggil Chindai melirik ke arah Bagas yang duduk di sofa yang terdapat didalam ruangan Chindai lalu meletakkan Iphone di nakas yang terletak di samping tempat tidurnya

"Ia, Ndai" jawab Bagas lalu menghampiri Chindai yang masih duduk di atas tempat tidurnya

"Kenapa lo mau jagain gue? Kan kita baru kenal?" tanya Chindai

"Lah? Emang lo gak mau di jagain sama cowo tampan kaya gue?" Bukannya menjawab pertanyaan Chindai tapi Bagas malah bertanya balik dan membuat alis Chindai bertaut

"Ih! Lo apaan sih, Gas. Gue tadi nanya, eh kenapa lo malah balik nanya gue? Rese lo" dengus Chindai sebal kearah Bagas yang hanya terkekeh melihat mimik wajah Chindai yang menurutnya lucu

"Oke, gue akan jawab.. Karena gue senang aja tiap hari ketemu sama lo nona cantik" lanjut Bagas dengan tersenyum

"Alasannya? Lo gak bosan gitu?" tanya Chindai lagi

"Alasannya? Ya karna gue pengen aja ketemu sama lo aja. Bosan? Nggak tuh, selama gue masih ada di dekat gue rasanya bosan itu gak ada" gombal Bagas sedikit terkekeh

"Gombal lo. Ohya, ntar siang gue udah bisa balik kan kata dokter?" tanya Chindai penuh harap

"Ia dan gue merasa sedih" jawab Bagas dengan memasang wajah sedih

"Lah? Kenapa lo sedih? Lo senang liat gue di rumah sakit mulu?" tanya Chindai heran

"Ya, nggak gitu juga kali. Gue sedih aja nggak bakalan ketemu sama lo lagi nanti" jelas Bagas

"Yaampun,Gas! Kita kan satu kampus? Kita masih bisa ketemu kan?"

"Ehiyaya.. Hehehe.. Kok gue jadi linglung gini ya" jawab Bagas cengengesan dan Chindai hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah aneh Bagas saat ini, "apalagi gue udah tau rumah om dan tante lo kan. Jadi, bisa lah gue main ke rumah om dan tante lo" lanjut Bagas yang membuat Chindai membulatkan matanya menatap tajam kearah Bagas. Merasa diperhatikan dengan tatapan yang tidak biasanya Bagas menunjukkan tangannya berbentuk peace tanda perdamaian

"Ohya, Ndai. Lo udah liat Ipod baru lo? Beberapa hari yang lalu sudah gue masukkan ke dalam tas kuliah lo" tanya Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan

"Ipod baru?" Ulang Chindai

"Iya, Ipod baru buat lo karena waktu itu gue udah buat Ipod lo rusak kan?" jawab dan tanya Bagas

"Tapi gue belum sempat cek tas kuliah gue, Gas"

"Yasudah, Gpp. Ntar setelah lo keluar dari rumah sakit ini lo udah bisa liat di tas kuliah lo" kata Bagas

"Seharusnya lo gak usah ganti, Gas. Itu juga karena gue jalan gak liat-liat jadinya kan gue ketabrak sama lo" jelas Chindai merasa tak enak kepada Bagas

"Udah gpp kok, lagian gue ikhlas gantiin Ipod lo. Kalau gak ada kejadian itu pasti gue gak bakalan ketemu sama lo nona cantik" kata Bagas dengan godaan yang membuat Chindai kikuk setengah mati

------------------
Siang ini Chindai sudah dikeluar dari rumah sakit dan sekarang sudah berada di rumah om dan tantenya. Canda dan tawa terus menghiasi rumah om Gilbert, kedatangan Bagas dirumah ini disambut gembira dengan Ivan dan Oca yang terlihat langsung akrab dengan Bagas. Bahkan sesekali Ivan dan Oca menggoda Bagas dan Chindai dengan gaya khas anak kecil.

"Kak Bagas, kakak pacaranya kak Chindai ya?" celetuk Oca dengan tampang polosnya dan mampu membuat Bagas dan Chindai saling lempar pandang dengan wajah kagetnya

“hmmm… emang Oca tau apa itu pacaran?” tanya Chindai mencoba terlihat biasa aja

“tau” jawab Oca enteng

“apa coba arti pacaran itu?” timpal Bagas sekenanya

“seperti kak Bagas dan Kak Chindai ini. Setiap hari ketemu terus, bicara berdua terus dan kemana-mana berdua terus” jelas Ivan yang tiba-tiba ikut nimbrung

“begitu menurut Ivan dan Oca?” tanya Chindai

“iya dong kaka” jawab Ivan semangat

“berarti Ivan dan Oca pacaran dong?” tanya Bagas santai dan membuat Chindai tersentak kaget dengan penuturan Bagas tadi

What? Waaahh!!!!!!! Parah ini anak satu, bisa-bisa bicara begitu dengan anak seusia Ivan dan Oca.

TUKKK!!! TUKKK!!!

Dua jitakan mendarat dikepala Bagas dengan mulus dari Oca dan Ivan. Sedangkan Bagas meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya dan Chindai tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang sakit akibat tertawa

“makanya jangan asal ceplas-ceplos tuh mulut… wleeeee” kata Chindai sambil meleletkan lidahnya untuk mengejek Bagas yang masih meringis kesakitan

“sialan lo!!!” desis Bagas sengit

“kenapa Oca sama Ivan memeukul kepala kak Bagas?” tanya Bagas dengan wajah sok lugu

“kak Bagas, rese sih. Mana bisa Oca sama Ivan pacaran, kan Oca sama Ivan kakak adik” sahut Oca kesal

“tau nih kak Bagas.. Ivan bilangin ke mama sama papa aja. Ayo Oca” jawab dan ajak Ivan kepada Oca sedangkan Oca hanya mengikuti apa kata Ivan.

Setelah Ivan dan Oca beranjak dari Bagas dan Chindai. Bagas dan Chindai dapat mendengar jelas kalau Ivan dan Oca sedang menceritakan apa yang barusan terjadi. Bagas hanya cekikikan mendengar samar-samar Oca dan Ivan mengatakan semuanya kepada sang mama. Chindai hanya bisa menahan nafas mendengar suara samar-samar Ivan dn Oca.

----------------------------
Sebulan berlalu kedekatan Bagas dan Chindai kini semakin jelas dikampus mereka. Banyak yang mengira mereka berdua pacaran. Tapi semua itu bukanlah hal yang sebenarnya. Bagas sering main ke rumah Om dan Tante Chindai diwaktu senggang. Sebanrnya bukan Chindai yang meminta untuk datang dan menghabiskan waktu dirumah Om dan Tante. Tapi, karena Ivan dan Oca yang selalu menelpon Bagas untuk datang kerumah.

Seperti sore ini, Bagas kembali berkunjung kerumah Chindai. Ntahlah apa tujuannya saat ini. Yang pasti bisa di tebak yang mengundang Bagas sudah pasti keponakkan Chindai itu.

TING NONG!!!!!

Suara bel rumah terdengar samai ke belakang. Ntah siapa yang bertamu sore hari ini.

“Oca!!! Ivan!!! Tolong buka pintunya sayang. Kak Chindai masih makan nih” teriak Chindai memanggil dua keponakkannya yang diruang tengah untuk membukakan pintu

“Iya kak” jawab Ivan dan Oca

Terdengar suara kaki yang berlari menuju pintu utama. Pasti suara kaki Oca dan Ivan yang berlari untuk membukakan pintu.

“Jangan lari-lari Oca… Ivan… nanti jatuh loh” teriak Chindai namun tak ada sahutan dari Ivan maupun Oca. Secepat mungkin Chindai menghabiskan makanannya.

---------------------
Sementara di ruang utama, terlihat Ivan dan Oca sedang berbincang dengan seorang pemuda. Siapa lagi kalau bukan Bagas yang selalu disambut baik oleh Oca maupun Ivan.

“jadi kak Bagas kesini mau ajak jalan-jalan Oca dan Ivan?” tanya Ivan dengan mata yang berbinar-binar. Saat Bagas menjelaskan tujuannya untuk datang ke sini untuk mengajak Ivan, Oca dan juga Chindai jalan-jalan

“iya, yuk kalian ganti bajunya ya, jangan lupa bilang sama kak Chindai juga ya” kata Bagas

“oke kakak.. kakak tunggu disini ya. Oca dan Ivan mau ganti baju dulu” kata Oca semangat. Bagas hanya menjawab meanggukan kepalanya saja

Namun belum sempat beranjak dari tempat duduk, Chindai datang mengampiri mereka semua.

“ada siapa sih Oca, Ivan?” tanya Chindai saat sudah di ruang utama. Karena saat itu Bagas duduk membelakangin Chindai

“ada kak Bagas, Kak” jawab Ivan dengan senyuman, dan Bagas pun membalikkan badannya untuk melihat kearah Chindai

“eh, lo. Ngapaian, Gas?” tanya Chindai. Bukannya menjawab Bagas tersenyum misterius dan langsung memalingkah wajahnya menghadap Ivan dan Oca kemudia kepala Bagas mengangguk kepada Oca dan Ivan

“kata kak Bagas mau ajak kita jalan-jalan, Kak” jawab Ivan semangat

“Jalan-jalan?” ualang Chindai tak percaya

“iya, Ndai. Lo mau kan ikut?” jawab dan tanya Bagas

Chindai terdiam sejenak memikirkan jawaban Bagas. Apa dirinya akan menerima ajakan Bagas atau tidak? Apalagi sekarang dirumah hanya ada Chindai, Oca, Ivan dan dua pembantu dirumah Om Gilbert?

“ah! Kak Chindai lama.. kak Chindai pasti mau kak.” Celetuk Oca sekenanya dan membuat Bagas tersenyum puas

“eh! Eh!” kaget Chindai dengan celetukannya Oca, segera Bagas berjalan menghampiri Chindai dan berbisik tepat di telinga Chindai.

“ayolah, Ndai. Daripada dirumah suntuk kan?” bisik Bagas tepat ditelinga Chindai

“tapi kan, Gas….” Ucap Chindai terhenti saat menatap kearah Bagas, jarak antara Bagas dan Chindai tinggal beberapa senti saja.

“wow!!! Tutup mata Oca” bisik Ivan kepada adiknya itu. Oca hanya manggut-manggut aja menuruti apa akata Ivan

“mau ya” pinta Bagas memohon dan menatap kedua mata Chindai tepat dimanik matanya, dan sekujur badan Chindai terasa menegang dengan tatapan teduh dari Bagas, darah berdesir hebat ditubuh Chindai.

------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar